Pemerintah Vietnam bahkan telah mencairkan dana darurat bahan bakar untuk menstabilkan harga. Di sisi lain, sejumlah maskapai penerbangan Vietnam terpaksa memangkas jadwal penerbangan akibat kelangkaan bahan bakar jet.
Tekanan inflasi pun kian nyata. Indeks harga konsumen (IHK) meningkat 4,65% pada Maret (YoY), melampaui target batas atas pemerintah yang dipatok sebesar 4,5% untuk tahun ini.
Lembaga tersebut juga mengungkap bahwa Vietnam mencatatkan surplus perdagangan sebesar US$33,9 miliar dengan Amerika Serikat pada kuartal pertama, melonjak 24,2% dari tahun sebelumnya.
Data ini menegaskan skala pergeseran rantai pasok global yang mulai menjauh dari China. Pada bulan Januari lalu, Vietnam bahkan sempat melampaui China dan Meksiko dalam mencatatkan defisit bulanan terbesar dengan AS.
Ekspor Vietnam tumbuh sekitar 20,1% pada Maret (YoY), dengan sektor manufaktur yang tumbuh 9,73% tetap menjadi motor utama penggerak ekonomi. Sementara itu, angka impor melonjak 27,8% pada bulan lalu.
Perdana Menteri Pham Minh Chinh sebelumnya telah memperingatkan adanya tekanan besar pada inflasi, suku bunga, dan energi akibat tensi global yang berisiko memukul kapasitas produksi dan dunia usaha.
Vietnam tidak akan mengorbankan stabilitas makroekonomi demi pertumbuhan jangka pendek, tegas Gubernur Bank Sentral, Nguyen Thi Hong, dalam unggahan di situs resmi bank sentral pekan lalu.
Sebagai upaya mengamankan pasokan domestik, Vietnam menangguhkan sejumlah pajak untuk bensin, minyak, dan bahan bakar jet hingga 15 April mendatang. Pemerintah juga mempercepat transisi ke kendaraan listrik dan bahan bakar nabati guna mengurangi ketergantungan pada produk minyak impor.
Di sisi lain, pemerintah mengandalkan kampanye investasi publik besar-besaran untuk memacu pertumbuhan. Salah satu proyek mercusuar yang dikebut adalah Bandara Internasional Long Thanh di luar Ho Chi Minh City, yang diharapkan mulai beroperasi pada kuartal terakhir tahun ini.
(bbn)
























