Logo Bloomberg Technoz

Menurutnya, Indonesia memasuki 2026 dengan ruang fiskal yang terbatas dan struktur energi yang masih rentan. Ketergantungan pada impor bahan bakar membuat lonjakan harga minyak global cepat merembet ke inflasi dan daya beli.

Simulasi GREAT menunjukkan bahwa pada harga minyak US$93–97 per barel, defisit diperkirakan di kisaran 3,25%–3,55% PDB. Pada kisaran US$95–105, defisit meningkat ke 3,40%–3,80%. Jika harga bertahan di US$105–120, defisit bisa melebar ke 3,80%–4,30%.

Peneliti lainnya, Adrian Nalendra Perwira, mengatakan perbedaan skenario tidak hanya terletak pada besaran tekanan, tetapi juga respons kebijakan yang dibutuhkan.

Pada skenario moderat, pemerintah masih dapat mengandalkan efisiensi anggaran, optimalisasi program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta kebijakan kerja fleksibel ASN.

Penghematan fiskal diperkirakan mencapai puluhan triliun rupiah tanpa harus menaikkan harga BBM subsidi. Namun, dalam skenario tekanan berat, opsi tersebut tidak lagi cukup.

“Kenaikan harga BBM subsidi mulai menjadi instrumen yang perlu dipertimbangkan. Misalnya, kenaikan pertalite Rp1.000 per liter dan solar Rp500 dapat memberikan penghematan bersih hingga Rp30 triliun,” ujar Adrian.

Ia menambahkan, dalam kondisi tersebut pemerintah juga perlu menyiapkan kompensasi sosial serta efisiensi tambahan hingga Rp130 triliun guna menjaga defisit tetap terkendali.

Selain itu, GREAT Institute mendorong pembentukan tiga satuan tugas, reformasi utang, reformasi penerimaan negara, dan credit rating. Khusus satgas credit rating, dinilai krusial untuk menjaga komunikasi dengan investor dan lembaga pemeringkat di tengah potensi pelebaran defisit.

“Pasar tidak hanya melihat angka defisit, tetapi juga kredibilitas strategi pemerintah untuk kembali ke jalur konsolidasi fiskal,” kata Adrian.

Dalam jangka menengah, GREAT menekankan pentingnya mengintegrasikan kebijakan fiskal dengan agenda ketahanan energi. Reformasi subsidi, penguatan cadangan energi, serta diversifikasi sumber energi dinilai menjadi kunci untuk mengurangi kerentanan terhadap shock eksternal.

Konflik geopolitik saat ini, kata dia, menjadi pengingat bahwa stabilitas fiskal dan kedaulatan energi tidak dapat dipisahkan.

“Indonesia tidak bisa terus memasuki krisis global dengan kombinasi yang sama: ketergantungan impor energi yang tinggi dan bantalan fiskal yang tipis,” ungkap GREAT Institute.

(ain)

No more pages