Rahmad mengaku Indonesia belakangan menjadi negara yang dirilik oleh importir pupuk lain yang berniat membeli pupuk asal Tanah Air. Negara-negara itu meliputi Australia dan juga India.
Dia memastikan perseroan akan mengutamakan ketersediaan stok dalam negeri. Perusahaan, kata dia, tetap menunggu instruksi dari pemerintah jika ekspor memungkinan dapat dilakukan untuk memenuh permintaan pupuk urea.
"Australia dan India itu yang paling besar," kata dia.
Rahmad sebelumnya memang mengakui konflik Timur Tengah memberikan tekanan signifikan terhadap distribusi pupuk di dunia.
Apalagi, sebanyak 30% jalur pupuk dalam perdagangan dunia diketahui melewati Selat Hormuz, yang belakangan juga ditutup oleh Iran. Jalur tersebut menjadi jalur utama pasokan distribusi pupuk urea dengan kapasitas mencapai sekitar 4 juta ton per bulan.
"Kalau dalam volume itu kalau setiap bulan 4 juta ton melalui Selat Hormuz, terdiri dari 1,5 juta ton urea, 1,5 juta sulfur dan sisanya jenis pupuk lainnya," ujar Rahmad dalam rapat bersama antara pimpinan BUMN dan Komisi XI di DPR.
Dia juga mengatakan bahwa Indonesia justru saat ini bisa menjadi stabilisator atau bahkan penyelamat ekosistem pangan dunia.
"Sehingga meskipun terjadi gejolak harga urea yang meningkat sebelum perang, dari US$400 dan sekarang sudah mencapai US$800 atau dua kali lipat, tapi kami bisa meyakinkan Bapak-bapak pimpinan dan anggota Komisi XI untuk Indonesia aman."
Berdasarkan laporan riset BMI, bagian dari Fitch Solutions, negara di kawasan Asia Tenggara sendiri diperkirakan mengalami pertumbuhan konsumsi pupuk. Indonesia menjadi negara dengan pertumbuhan yang signifikan (outperformer).
Produksi dari PT Pupuk Indonesia (Persero) adalah 14,65 juta ton/tahun. Sementara konsumsi mencapai sekitar 23 juta ton/tahun. Artinya, sekitar 36% kebutuhan pupuk masih harus didatangkan dari luar negeri alias impor.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, volume impor pupuk Indonesia pada 2025 adalah 8,36 juta ton. Naik 11,02% dibandingkan tahun sebelumnya. Negara importir paling banyak ada Rusia yang mencapai 1,4 juta ton, diikuti Kanada diposisi kedua sebanyak 1,26 juta ton. Sementara, Mesir diposisi ketiga sebanyak 1,16 juta ton.
(ain)




























