Logo Bloomberg Technoz

Menurutnya, Trump justru mengindikasikan potensi eskalasi dengan menyatakan AS dapat melancarkan serangan sangat keras terhadap Iran dalam dua hingga tiga pekan serta memperingatkan bahwa pembangkit listrik Iran akan menjadi target jika tidak tercapai kesepakatan. “Akibatnya, pernyataan tersebut ditafsirkan sebagai faktor negatif bagi pasar saham,” ujarnya.

Ken Wong, spesialis portofolio saham Asia di Eastspring Investments Hong Kong Ltd, mengatakan meskipun pasar ingin segera beralih dari konflik ini, dampak peristiwa di Timur Tengah selama sebulan terakhir masih perlu dicermati.

“Pertanyaannya sekarang adalah sejauh mana perkembangan ini akan berdampak pada ekonomi global dalam beberapa kuartal ke depan. Dengan adanya guncangan harga minyak, kemungkinan Federal Reserve menurunkan suku bunga semakin kecil,” katanya.

Tomo Kinoshita, analis strategi pasar global di Invesco Asset Management Japan, menilai pasar kembali bergerak defensif karena konflik belum menunjukkan tanda penyelesaian.

“Pasar kembali mengarah pada penurunan saham, harga obligasi yang melemah, dan dolar yang menguat. Ada kesadaran yang semakin besar bahwa konflik Iran dapat menimbulkan efek rambatan luas terhadap banyak negara dan kawasan,” ujarnya.

Carol Kong, ekonom dan analis mata uang di Commonwealth Bank of Australia, menilai Trump gagal meyakinkan pasar bahwa konflik akan mereda.

“Faktanya, aset militer AS terus ditambah di kawasan, sehingga kemungkinan ofensif darat tetap terbuka. Artinya, dolar AS kemungkinan tetap kuat dalam jangka pendek,” katanya.

Tareck Horchani, Kepala Sales Trading Prime Brokerage di Maybank Securities, menyebut pidato Trump sebagai pesan yang campur aduk.

“Pasar sebenarnya mulai menguat menjelang pidato dengan harapan konflik segera berakhir. Namun, kini investor kembali dipaksa mengambil posisi defensif. Pasar juga mulai memperhitungkan kembali premi risiko geopolitik, terutama terkait pasokan energi,” ujarnya.

Wee Khoon Chong, analis pasar APAC senior di BNY, mengatakan mata uang Asia Pasifik, khususnya negara pengimpor minyak, kemungkinan tetap tertekan akibat harga minyak tinggi dan dolar yang menguat.

Ia menambahkan tekanan inflasi yang meningkat juga berpotensi menunda pelonggaran kebijakan moneter Federal Reserve. “Permintaan terhadap aset aman juga akan mendukung dolar dalam jangka pendek,” katanya.

Sean Callow, analis valas senior di ITC Markets, mengatakan dolar kemungkinan kembali menguat karena Trump tidak menawarkan rencana konkret untuk membuka kembali Selat Hormuz selain mendorong negara lain untuk bertindak.

Dilin Wu, analis riset di Pepperstone Group, menilai pidato Trump mengecewakan karena di satu sisi mengklaim kemenangan, namun di sisi lain tetap mengancam serangan baru terhadap fasilitas energi Iran dalam beberapa pekan ke depan.

“Ini menunjukkan strategi tekanan tetap menjadi pilihan utama dibandingkan de-eskalasi penuh,” ujarnya.

Nick Twidale, kepala analis pasar di AT Global Markets, mengatakan pasar menginginkan kepastian kapan konflik akan berakhir, namun pidato Trump justru menambah ketidakpastian.

“Investor jelas tidak terkesan dan kita bisa melihat penurunan lebih lanjut di pasar global hari ini. Pernyataan bahwa AS akan menghantam Iran dalam beberapa pekan ke depan menjadi sinyal negatif besar bagi pasar karena menunjukkan perang kemungkinan masih akan berlanjut,” katanya.

(bbn)

No more pages