Logo Bloomberg Technoz

Menguatnya sebagian mata uang di pasar Asia ditopang oleh harga minyak mentah Brent yang melemah 0,92% ke US$100,23 per barel melanjutkan pelemahan kemarin. Pernyataan Presiden AS Donald Trump meningkatkan harapan berakhirnya perang. 

Trump menyebut bahwa Iran telah meminta gencatan senjata. Namun ia menambahkan bahwa AS hanya akan mempertimbangkannya jika Selat Hormuz dibuka kembali.

Sebaliknya, Kementerian Luar Negeri Iran melalui stasiun TV pemerintah menyatakan bahwa klaim permintaan gencatan senjata tersebut adalah "palsu dan tidak berdasar."

Trump kembali dijadwalkan untuk menyampaikan pidatonya. Menurut pejabat Gedung Putih, pemimpin AS tersebut diperkirakan akan mengeklaim keberhasilan kampanye militer di Iran dan menekankan bahwa penghentian operasi militer mungkin terjadi dalam waktu dekat. 

Di tengah kabar yang masih simpang siur, pasar tetap merespons positif sinyal de-eskalasi ini. Kontrak berjangka indeks saham di Jepang, Hong Kong, Australia, dan Korea Selatan kompak menguat, mngindikasikan adanya potensi reli yang meluas di kawasan Asia.

Sentimen ini mengikuti kinerja positif Wall Street, di mana indeks S&P 500 naik 0,7%. Sementara Nasdaq 100 melonjak 1,2%. 

Pergerakan aset berisiko (risk-on) secara luas ini mencerminkan meredanya kekhawatiran akan konflik berkepanjangan di Timur Tengah, seiring tumbuhnya keyakinan bahwa Trump mungkin akan segera membatasi aksi militer AS terhadap Iran.

Sementara dari dalam negeri, data-data domestik belum sepenuhnya melegakan. Dari sisi inflasi kenaikan harga makanan dan energi jadi alarm melonjaknya biaya hidup di tengah lesunya konsumsi domestik. Tingkat inflasi Indonesia tercatat 3,48% secara tahunan pada Maret 2026. 

Sedangkan inflasi inti justru cenderung jinak di level 2,52%. Inflasi inti merupakan cerminan dari permintaan domestik. Komponen inflasi inti terdiri dari perumahan, pendidikan, barang dan jasa rumah tangga, transportasi dan komunikasi, hiburan dan rekreasi, serta perawatan pribadi.  

Sementara itu, terjadi pelemahan konsumsi pada kelompok non-esensial. Kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan justru mengalami deflasi tipis sebesar 0,03%.

Deflasi yang terjadi pada kelompok ini menandakan bahwa rumah tangga sedang menahan pengeluaran yang tidak mendesak. Perilaku masyarakat saat ini lebih menahan konsumsi dengan mengalihkan pengeluaran fokus pada kebutuhan dasar. 

Dari sektor manufaktur alarm serupa sebenarnya sedang berdering. Ekspansi sektor manufaktur Indonesia melambat signifikan hingga nyaris stagnan pada Maret dengan adanya penurunan PMI menjadi 50,1, lebih rendah dari data Februari 53,8. 

"Kami mencermati adanya potensi pelemahan permintaan ekspor ke depan khususnya dari negara tetangga di Asia. Sejumlah negara seperti Filipina, Thailand, Pakistan, dan Bangladesh telah menerapkan langkah penghematan energi yang berpotensi memperlambat aktivitas ekonomi pada kuartal II 2026," kata Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, dalam catatannya kemarin (1/4/2026). 

Pelemahan terbatas di pasar offshore pagi ini jadi indikasi bahwa pasar cenderung berada di mode wait and see. Di satu sisi sentimen global relatif membaik seiring munculnya harapan de-eskalasi konflik Timur Tengah. Tapi di sisi lain, fundamental domestik belum memberikan bantalan yang cukup kuat untuk rupiah menguat secara signifikan. 

Pergerakan rupiah masih akan menghadapi tekanan dari sisi kanal perdagangan eksternal dengan perlambatan sektor manufaktur yang menyumbang lebih dari 80% ekspor Indonesia, mengindikasikan adanya potensi pelemahan kinerja ekspor yang selama ini menjadi bantalan stabilitas eksternal.

Selain itu, data inflasi yang mencerminkan adanya perlambatan pertumbuhan, tapi kenaikan harga tetap meningkat menjadi sinyal bahwa permintaan domestik, yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi, terlihat sedang melemah. 

Analisa Teknikal 

Analisis Teknikal Rupiah Kamis 2 April 2026 (Sumber: Bloomberg)

Secara teknikal, rupiah berpotensi terus melanjutkan penguatan hari ini. Adapun rupiah berpotensi menembus resistance terdekat di level Rp16.950/US$, dengan resistance potensial selanjutnya menuju Rp16.910/US$ usai break trendline sebelumnya.

Teknikal rupiah juga memperlihatkan level Rp16.860/US$ sebagai target paling optimistis dalam jangka pendek.

Sebaliknya rupiah memiliki level support terdekat di level Rp17.000/US$. Apabila level ini berhasil tembus, maka mengonfirmasi support selanjutnya di level Rp17.100/US$ sebagai support psikologis.

(riset/aji)

No more pages