Logo Bloomberg Technoz

Adapun saham konsumen non primer yang terbang tinggi di zona hijau adalah, saham PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) menguat 14,2%, saham PT Vktr Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) melesat 11,5%. Saham PT ERA Media Sejahtera Tbk (DOOH) terapresiasi 10,3%.

Senada, saham konsumen barang baku juga melesat hingga menjadi pendorong IHSG, saham PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) menguat 9,78%, saham PT Pam Mineral Tbk (NICL) melesat 8,64%. Saham PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) mencatat kenaikan 7,64%.

Saham–saham LQ45 juga menguat dan berada di teritori positif i.a, adalah saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) melesat 7,83%, saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) melejit 7,01%. Saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) terapresiasi 6,32%.

Sama halnya, tren bullish juga terjadi pada saham LQ45 berikut, saham PT  Barito Pacific Tbk (BRPT) mencatat kenaikan 6,23%, saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) menguat 5,73%. Saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) terapresiasi 4,17%.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan kinerja neraca perdagangan Indonesia pada Februari 2026, neraca dagang berhasil mengalami surplus mencapai US$1,27 miliar. Artinya, neraca perdagangan Indonesia telah mencatatkan surplus selama 70 bulan berturut–turut sejak Mei 2020.

Deputi Bidang Statistik Sosial BPS Ateng Hartono menyebutkan surplus neraca perdagangan pada Februari ini berhasil lebih tinggi dibanding posisi surplus neraca perdagangan pada Januari 2026 yang sebesar US$950 juta.

Pada Februari 2026, impor negara Indonesia mencatat kenaikan 10,85% year–on–year/yoy hingga tercatat sebesar US$20,89 miliar. Menurut penggunaannya, nilai impor pada Februari terjadi peningkatan pada seluruh golongan penggunaan secara tahunan.

Pada saat yang sama, ekspor Tanah Air tumbuh 1,01% pada Februari lalu mencapai US$22,17 miliar. Capaian kinerja ekspor pada Februari ditopang oleh kenaikan nilai ekspor non–migas, yaitu pada beberapa komoditas, yakni komoditas terutama lemak dan minyak hewan/nabati naik cukup tinggi. Kemudian, nikel dan barang daripadanya, mesin dan perlengkapan elektrik dan bagiannya.

Kemudian, Badan Pusat Statistik (BPS) juga mengumumkan data inflasi sepanjang Maret 2026, hasilnya Indonesia mengalami inflasi sebesar 0,28% secara bulanan (month–to–month/mtm) atau 2,86% secara tahunan.

Inflasi Maret lebih tinggi dibanding Februari yang secara bulanan tercatat 0,41% dan inflasi tahunan 3,48%.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan, berdasarkan kelompok pengeluarannya, inflasi tahunan terutama didorong oleh kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga.

“Komoditas dengan andil inflasi terbesar pada kelompok ini adalah tarif listrik,” papar Ateng dalam Konferensi Pers, Rabu.

Kelompok pengeluaran lain yang mengalami inflasi cukup tinggi ialah pada perawatan pribadi dan jasa lainnya, terutama pada komoditas emas perhiasan.

Kemudian, kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga mengalami inflasi.

(fad)

No more pages