Logo Bloomberg Technoz

Anggaran Subsidi

Di sisi lain, Wahyu memandang pemerintah bakal dihadapi oleh kenaikan anggaran subsidi energi jika harga minyak mentah terus berada di atas US$100/barel dan harga Pertalite ditahan.

Dia memprediksi kenaikan setiap US$1/barel dalam harga minyak mentah bakal menambah beban subsidi atau kompensasi sekitar Rp6,8 triliun. Kondisi ini, juga diprediksi bakal memengaruhi arus kas Pertamina jika, utamanya jika dana kompensasi mengalami keterlambatan.

“Dengan Brent di atas US110, defisit anggaran berisiko melebar melampaui batas aman jika tidak ada tindakan,” kata dia.

Untuk harga bensin nonsubsidi, Wahyu memprediksi kenaikan harga minyak mentah dan melemahnya rupiah bakal membuat harga Pertamax series naik sekitar 5%—10%. Dengan begitu, dia memprediksi Pertamax bakal naik dari Rp12.300/liter menjadi Rp13.800—Rp14.300 per liter.

“Diduga terbuka potensi kenaikan sekitar 5% hingga 10%. Jika dikonversi ke rupiah, kenaikannya diperkirakan berkisar antara Rp1.500—Rp2.000 per liter. Sebagai gambaran, Pertamax yang saat ini di Rp12.300 bisa saja merangkak ke area Rp13.800—Rp14.300,” ungkapnya.

Sebagai informasi, penyesuaian harga BBM nonsubsidi dilakukan secara berkala setiap tanggal 1, mengacu pada Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM No. 245.K/MG.01/MEM.M/2022 tentang Formula Harga Dasar Dalam Perhitungan Harga Jual Eceran Jenis BBM Umum Jenis Bensin dan Minyak Solar yang Disalurkan Melalui Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum.

Pada tahun ini, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas) menetapkan kuota subsidi jenis bahan bakar minyak (BBM) khusus penugasan (JBKP) Pertalite pada 2026 ditetapkan sebanyak 29.267.947 kiloliter (kl), turun 6,28% dari kuota 2025 sejumlah 31.230.017 kl.

Di sisi lain, kuota subsidi jenis bahan bakar minyak tertentu (JBT) Solar ditetapkan sebanyak 18.636.500 kl. Kuota tersebut turun 1,32% dibandingkan dengan porsi 2025 sebanyak 18.885.000 kl.

Sementara itu, untuk JBT minyak tanah, kuota pada 2026 ditetapkan sebanyak 526.000 kl. Besaran itu tercatat naik tipis 0,19% dibandingkan dengan kuota kerosene subsidi pada 2025 sejumlah 525.000 kl.

Sekadar catatan, penyaluran Pertalite pada 2025 mencapai 28,06 juta kl atau setara 89,86% dari kuota yang ditetapkan sebanyak 31,2 juta kl. Dari besaran itu, terdapat 3,1 juta kl BBM bersubsidi yang berhasil dihemat senilai Rp2,75 triliun.

Selanjutnya, penyaluran Solar subsidi tercatat sebesar 18,41 juta kl atau setara 97,49% dari kuota yang ditetapkan sebesar 18,85 juta kl. BPH Migas menyatakan pemerintah berhasil menghemat sekitar 473,63 ribu kl atau senilai Rp2,11 triliun.

Adapun, untuk minyak tanah, BPH Migas mengungkapkan penyalurannya mencapai 507.944 atau setara 96,75% dari kuota yang ditetapkan sebesar 525.000. Dengan torehan itu, terdapat 17.056 kl minyak tanah yang dihemat senilai Rp122 miliar.

Secara total, BPH Migas mengklaim pemerintah berhasil menghemat Rp4,9 triliun dari dana subsidi energi gegara penyaluran BBM bersubsidi berada di bawah kuota yang ditetapkan.

Sekadar informasi, harga minyak mentah kembali bergerak menguat setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan meningkatkan intensitas serangan terhadap Iran. Langkah ini memicu kekhawatiran bahwa perang masih jauh dari kata usai dan pasar global bersiap menghadapi kekacauan yang lebih dalam.

Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei naik 1,9% menjadi US$104,88/barel pada pukul 06.13 pagi hari ini di Singapura. Sementara itu, minyak Brent untuk pengiriman Mei ditutup menguat 0,2% di level US$112,78 per barel pada Senin (30/3/2026).

(azr/wdh)

No more pages