“Untuk BBM nonsubsidi kan memang mekanisme pasar baik BUMN maupun swasta sudah ada mekanismenya mereka untuk menaikkan harga. Kalau kami dari sisi pemerintah yang penting yang subsidi enggak naik,” tegas Laode.
Untuk itu, dia mengimbau agar masyarakat tidak perlu melakukan panic buying atau menimbun BBM. Alasannya, harga BBM bersubsidi tidak bakal mengalami kenaikan dan dia mengklaim pasokannya dalam kondisi terjaga.
“Tetap tenang, jangan panic buying. Satu, kenapa harus tetap tenang? Kan harga tidak naik. Dua, stok aman. Jadi tidak perlu ada yang dikhawatirkan,” ujar Laode.
Adapun, terdapat dokumen yang menunjukan perkiraan harga jual eceran BBM nonsubsidi (JBU) di Pertamina untuk periode April 2026.
Dalam dokumen tersebut, dijelaskan bahwa kurs tengah melemah sekitar 0,34% atau Rp58/US$ dari Rp16.819/US$ menjadi Rp16.877/US$ pada periode 25 Februari 2055—24 Maret 2026 dibandingkan dengan 25 Januari—24 Februari 2026.
Dalam periode yang sama, harga indeks pasar (HIP) bensin RON 92 naik 62,44% menjadi US$46,15/barel dari US$73,91/barel menjadi US$120,06/barel. Besaran tersebut naik 62,99% atau setara Rp4.925/liter yakni dari Rp7.818/liter menjadi Rp12.744/liter.
Lalu, HIP Solar 2500 parts per million (ppm) naik 90,65% atau sekitar US$79,08/barel dari US$87,23/barel menjadi US$166,31/barel. Besaran itu, naik 91,3% atau sekitar Rp8.425/liter dari Rp9.228/liter menjadi Rp17.653/liter.
Lebih lanjut, dengan perkembangan tersebut disebutkan bahwa harga BBM jenis Pertamax bakal naik Rp5.500/liter menjadi Rp17.850/liter pada April dari harga bulan sebelumnya.
Lalu, harga Pertamax Green diklaim naik Rp6.250/liter menjadi Rp19.150/liter dari sebelumnya Rp12.900/liter. Kemudian, Pertamax Turbo naik Rp6.350/liter menjadi Rp19.450/liter dari Rp13.100/liter.
Sementara itu, Pertamina Dex disebut naik Rp9.450/liter menjadi Rp23.950/liter dari harga bulan sebelumnya sebesar Rp14.500/liter. Kemudian, Dexlite naik Rp9.450/liter menjadi Rp23.650/liter dari Rp14.200/liter.
“Skema harga gasoline dan gasoil naik sejalan dengan tren HIP dalam upaya mendukung arahan pemerintah untuk hemat energi akibat situasi perang US–Israel vs Iran yang menyebabkan harga minyak dunia naik ekstrem dan terjadi gangguan 20% pasokan minyak dunia di Selat Hormuz,” sebagaimana tertulis dalam dokumen yang ramai menyebar di media sosial itu.
“Sekaligus mempertimbangkan perlunya gap harga yang cukup lebar dari pesaing guna mitigasi gejolak sosial segmen JBU di saat terjadi kenaikan harga BBM JBU yang signifikan,” sebagaimana tertulis dalam dokumen itu.
Sekadar informasi, penyesuaian harga BBM nonsubsidi dilakukan secara berkala setiap tanggal 1, mengacu pada Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM No. 245.K/MG.01/MEM.M/2022 tentang Formula Harga Dasar Dalam Perhitungan Harga Jual Eceran Jenis BBM Umum Jenis Bensin dan Minyak Solar yang Disalurkan Melalui Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum.
Harga minyak mentah dunia kembali merangkak naik setelah kelompok Houthi di Yaman, yang didukung Iran, resmi terlibat dalam perang Timur Tengah.
Situasi ini diperparah dengan tibanya lebih banyak pasukan Amerika Serikat (AS) di kawasan tersebut, yang memicu kekhawatiran akan eskalasi besar serta guncangan lanjutan di pasar energi.
Kenaikan harga minyak pekan ini terjadi setelah Houthi menembakkan rudal dan drone ke arah Israel akhir pekan lalu, seraya menegaskan bahwa mereka akan terus melancarkan operasi hingga serangan terhadap Iran dan kelompok proksinya dihentikan.
Harga Brent telah melonjak lebih dari 50% sepanjang Maret seiring perang antara AS, Israel, dan Iran yang mengacak-acak pasar global. Konflik ini telah memasuki pekan kelima dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
(azr/wdh)




























