Perbedaan Gejolak Minyak 2026 Akibat Hormuz dengan Krisis 1973
Azura Yumna Ramadani Purnama
30 March 2026 14:00

Bloomberg Technoz, Jakarta – Analis komoditas memandang gejolak yang terjadi di pasar minyak dan gas (migas) global, akibat penutupan jalur perdagangan di Selat Hormuz hari-hari ini, memiliki sejumlah perbedaan dengan krisis minyak yang terjadi pada 1973.
Presiden Komisioner HFX Internasional Berjangka Sutopo Widodo berpendapat, setelah krisis minyak pada 1973, negara-negara di dunia mulai melakukan sejumlah langkah untuk mengamankan pasokan energinya.
Dia mencatat, sebelum 1973, dunia sangat bergantung pada pasokan dari Timur Tengah atau Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan saat itu Amerika Serikat (AS) masih menjadi importir minyak mentah.
Sementara saat ini, Sutopo memandang peta kekuatan energi telah berubah. AS telah menjadi produsen minyak mentah terbesar, lalu kehadiran minyak serpih atau shale oil dan produksi dari negara non-OPEC juga memberikan bantalan bagi pasokan minyak dunia.
“Artinya, embargo satu wilayah tidak lagi memiliki daya rusak ‘mematikan’ yang sama terhadap ekonomi global,” kata Sutopo ketika dihubungi, Senin (30/3/2026).


























