"Pertama, harga komoditas untuk CPO tahun lalu itu kan turun sekitar 16%, kemudian batu bara turun 19%. Sekarang harnya keduanya mulai naik, berarti nilai ekspor kita pasti meningkat," tutur dia.
Hanya saja, dia tetap menggarisbawahi dan mengkhawatirkan pertumbuan ekspor akan melanadi apabila eksalasi konflik bertahan cukup lama.
Dia berharap perang tersebut diharapkan dapat mereda dan memiliki solusi perdamaian yang positif.
"Mudah-mudahan [perang] cepat selesai. Saya yakin cepat selesai karena dampaknya ke semua. Sudah banyak juga negara yang ingin selesai karena semua terimbas, kata dia.
Sepanjang tahun lalu, kata dia, ekspor dalam negeri ke kawasan Timur Tengah tercatat mencapai sekitar US$9,87 miliar atau mengambil porsi 3,49% dari total ekspor. Negara terbesar adalah Uni Emirat Arab (UEA) yang mengambil porsi sekitar 40%.
Sementara itu, Arab Saudi mengambil porsi sekitar 29%. Lalu, ekpsor ke Iran hanya sebesar 2,5% atau setara sekitara US$250 juta.
Kemendag sebelumnya telah menargetkan ekspor Indonesia pada 2026tumbuh 7,09%. Namun, target tersebut sedikit turun dari proyeksi 2025 lalu yang masih sebesar 7,1%.
(ain)





























