Dari pasar obligasi, Surat Utang Negara (SUN) yang kemarin ramai dibeli kini mulai menunjukkan respons sebaliknya. Yield tenor pendek hingga menengah terlihat kembali naik.
Yield tenor 1 tahun naik 1,9 basis poin (bps) ke 6%, yield tenor 2 tahun naik 1,1 bps ke 6,3%, yield tenor 3 tahun naik 0,8 bps ke 6,42%, dan yield SUN 5 tahun naik 2 bps ke 6,61%.
Langkah pemerintah melalui Kementerian Keuangan dengan menambah penempatan dana Rp100 triliun ke perbankan menjelang Lebaran belum mampu menekan gejolak yang ada.
Memang, ketika likuiditas mengetat, kemampuan bank untuk menyerap obligasi pemerintah ikut melemah. Tapi kondisi kenaikan yield ada saat ini lebih merupakan efek dari eskalasi konflik yang terjadi di Timur Tengah. Lonjakan harga minyak dan kembali menguatnya dolar AS dalam beberapa waktu terakhir membuat premi risiko global kembali meningkat.
Investor belakangan ini kembali berhitung risiko demi menjaga nilai asetnya tetap aman, dengan berburu aset safe haven. Kala investor mencari perlindungan nilai seperti masa sekarang ini, aset-aset emerging market, termasuk rupiah dan SUN jadi rentan terhadap aksi jual.
(dsp/aji)































