Logo Bloomberg Technoz

Koreksi harga emas dunia disebabkan oleh keraguan akan harapan perdamaian di Timur Tengah. Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berjanji untuk tidak menyerang fasilitas energi Iran selama 10 hari ke depan.

Namun sepertinya Iran menanggapinya dengan dingin. Teheran membantah adanya interaksi langsung dengan Washington. Iran menyatakan tidak berniat melakukan negosiasi dengan AS dan menambahkan pertukaran proposal antara kedua negara melalui mediator bukan berarti telah terjadi negosiasi.

Melalui kantor berita Tasnim, Iran memberi sinyal bahwa mereka masih menunggu sanggahan usai menolak rencana 15 poin AS untuk mengakhiri perang dan mengajukan syarat-syaratnya sendiri. Syarat-syarat tersebut meliputi jaminan bahwa AS dan Israel tidak akan melanjutkan serangan mereka, pembayaran ganti rugi atas kerusakan perang, dan pengakuan atas kedaulatan Iran atas Selat Hormuz.

Iran juga mengajak penghentian perang di semua haluan terdepan, seperti dilaporkan Tasnim, yang kemungkinan merujuk pada perang paralel Israel vs kelompok militan Hezbollah yang didukung Teheran di Lebanon.

Ini membuat harga minyak masih bertahan di level tinggi. Kemarin, harga minyak jenis brent ditutup melesat 5,66% ke US$ 108,01/barel.

Artinya, harga energi sepertinya masih akan mahal. Ini menyebabkan bank sentral di berbagai negara (termasuk Federal Reserve di AS) memiliki ruang yang amat terbatas untuk melonggarkan kebijakan moneter.

Tanpa asa akan penurunan suku bunga, emas menjadi kurang diuntungkan. Sebab, emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset).

(aji)

No more pages