Sentimen risk-on terbatas kemarin yang sempat menguat dengan pengajuan proposal AS untuk mengakhiri perang, kini sepertinya mulai kehilangan tenaga. Situasi Timur Tengah cenderung dinamis dan beberapa negara tak lagi mengambil sikap wait and see, tapi justru mulai mengamankan stok energi bagi kebutuhan domestiknya.
Jepang misalnya, melepas cadangan minyak strategisnya sebanyak 8,5 juta kiloliter dari cadangan nasionalnya. Tingkat sensitivitas Jepang terhadap kebutuhan minyak mentah dari Timur Tengah memang tinggi, setidaknya mencapai 95,1%.
Sementara India yang bergantung pada pasokan Timur Tengah sebanyak 55% telah membeli sekitar 5 juta barel minyak mentah Iran, menyusul pelonggaran selama 30 hari yang diberikan AS untuk memungkinkan impor minyak Iran yang sudah dalam perjalanan. Dalam beberapa pekan terakhir, kilang-kilang India juga membeli minyak dari Rusia, dengan total lebih dari 40 juta barel, setelah pelonggaran sanksi tersebut.
Begitu juga dengan Indonesia. Di tengah kekhawatiran fiskal dengan lonjakan harga minyak di atas asumsi dasar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), Indonesia berencana melakukan efisiensi.
Pemerintah akan mengurangi pengeluaran yang bersifat operasional di kementerian dan lembaga. Sejumlah pos yang berpotensi dipangkas antara lain belanja jasa, perjalanan dinas, belanja aparatur, serta pengadaan peralatan.
Selain itu, kajian yang dilakukan oleh Menteri Keuangan dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, setidaknya dapat menghemat sekitar Rp120 triliun anggaran, termasuk pengurangan jumlah distribusi program Makan Bergizi Gratis (MBG). Meski keputusan ini belum final, rencana pemangkasan ini akan diajukan kepada Presiden Prabowo Subianto.
(dsp/aji)
































