“Peningkatan freight rate merupakan peluang strategis yang memberikan dampak positif langsung bagi kinerja perusahaan,” ujar Widya.
Fleksibilitas penerapan biaya tambahan (bunker surcharge) juga memungkinkan perusahaan menyesuaikan kenaikan biaya operasional, sementara utilisasi armada yang optimal mendukung pengelolaan rute yang lebih adaptif sepanjang tahun.
Perseroan menambahkan, struktur kontrak jangka menengah hingga panjang tetap menjaga stabilitas volume pengangkutan, di tengah volatilitas pasar global.
“Volume pengangkutan akan tetap tumbuh di tengah kondisi geopolitik saat ini karena permintaan pasar yang tetap terjaga,” kata Widya.
Biaya Logistik
Meskipun berpotensi menaikan margin dan pendapatan sepanjang 2026. Kenaikan biaya logistik dan potensi hambatan operasional kapal saat konflik Timur Tengah dan ketegangan di Selat Hormuz juga menghantui SMDR.
Eskalasi konflik di Timur Tengah mendorong kenaikan biaya logistik global dan meningkatkan risiko operasional di industri pelayaran, seiring penyesuaian premi asuransi (war risk surcharge) dan perubahan jalur distribusi.
SMDR menyebut kondisi tersebut berpotensi menekan efisiensi operasional, meski di saat yang sama membuka peluang di tengah terbatasnya pasokan kapal akibat kemacetan di jalur pelayaran.
“Samudera memantau hasil asesmen pihak asuransi serta penyesuaian war risk surcharge yang diberlakukan oleh perusahaan pelayaran global,” kata Widya.
Selain itu, perusahaan juga membuka opsi penyesuaian ketentuan polis asuransi maupun cakupan risiko guna mengantisipasi dinamika geopolitik yang berkembang.
Di sisi lain, kenaikan biaya logistik secara umum dinilai berpotensi mendorong kenaikan harga barang dan inflasi secara luas.
“Peningkatan biaya logistik pada akhirnya akan memicu kenaikan harga barang secara luas atau inflasi,” ujar Widya.
Perseroan juga menyoroti potensi gangguan operasional seperti perubahan rute pelayaran dan peningkatan waktu tunggu kapal, yang dapat memengaruhi efisiensi distribusi.
Skenario Harga Minyak
Goldman Sachs Group Inc. menilai gangguan pelayaran berpotensi menjadi guncangan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global, dengan harga minyak berisiko menembus US$150 per barel dalam skenario ekstrem.
Bank investasi itu menaikkan proyeksi harga minyak Brent 2026 menjadi rata-rata US$85 per barel dari sebelumnya US$77, sementara West Texas Intermediate (WTI) diperkirakan naik menjadi US$79 dari US$72, seiring asumsi aliran minyak melalui Selat Hormuz sempat turun drastis sebelum pulih bertahap.
Tekanan geopolitik juga meningkat setelah Presiden Donald Trump memberi ultimatum kepada Iran untuk membuka kembali jalur tersebut, di tengah ancaman eskalasi lebih lanjut.
Di sisi pasokan, potensi gangguan diperkirakan dapat mendorong kehilangan produksi minyak Timur Tengah hingga puncaknya 17 juta barel per hari, dari sekitar 11 juta barel saat ini, dengan total kehilangan kumulatif yang bisa melampaui 800 juta barel.
Meski demikian, stok minyak komersial di kawasan OECD, terutama di Amerika dan Eropa, masih relatif meningkat karena sebelumnya pasokan global berada di atas permintaan sebelum konflik berlangsung.
(art/naw)






























