"Sepertinya Iran mengizinkan kapal-kapal tertentu untuk melintasi Selat Hormuz setelah verifikasi yang dilakukan selama kapal-kapal tersebut melintasi perairan Iran," kata Martin Kelly, kepala penasihat di EOS Risk Group. "Meski kapal-kapal diizinkan melintas, hal ini sebagian besar hanya menguntungkan Iran."
Ancaman Iran terhadap kapal-kapal yang melewati selat tersebut memberi pemerintah Teheran pengaruh atas pasar energi global, mendorong kenaikan harga dan menciptakan kekhawatiran akan kekurangan minyak, gas alam, bahan bakar masak, dan pupuk.
Sekitar seperlima minyak dunia biasanya melewati selat tersebut. Sejak awal perang pada akhir Februari, beberapa kapal telah dihantam rudal atau drone di selat tersebut, setidaknya dua awak kapal tewas, dan biaya asuransi melonjak. Ada laporan bahwa Iran telah memasang ranjau di perairan tersebut.
Sebelum memasuki selat minggu lalu, awak kapal di atas kapal tanker LPG menyiapkan rakit penyelamat mereka, kata perwira tersebut. Mereka telah berlabuh di Teluk Persia selama sekitar 10 hari ketika pada Jumat pagi, 13 Maret, diberi tahu bahwa mereka telah diberi izin untuk melakukan transit malam itu.
Selama seminggu terakhir, beberapa kapal telah melintasi celah sempit di antara pulau-pulau Iran, Larak dan Qeshm, serta melintas dekat pantai Iran. Di antaranya dua kapal kargo curah yang telah singgah di pelabuhan Iran, dan kapal berbendera Pakistan, Karachi.
Petugas di kapal LPG India tersebut menolak memberikan rincian spesifik mengenai rute mereka. Mereka berlayar dengan sistem identifikasi otomatis (AIS) dimatikan, menurut petugas dan data AIS yang dianalisis oleh Bloomberg, dan menyalakannya kembali setelah berhasil keluar ke Teluk Oman.
Petugas tersebut mengatakan kapal tersebut juga tidak dapat menggunakan GPS, yang telah mengalami gangguan luas sejak awal konflik. Hal itu berarti penyeberangan memakan waktu berjam-jam lebih lama dari biasanya.
Di seberang selat, kapal-kapal Angkatan Laut India menunggu untuk mengawal mereka, dengan bendera nasional berkibar lebih tinggi dari biasanya, kata perwira tersebut. Kapal tersebut kemudian berlayar menuju India.
Menggunakan data pelayaran, Bloomberg berhasil memverifikasi posisi awal dan akhir kapal, dan detail lain yang disampaikan perwira tersebut guna memverifikasi sebagian dari keterangannya.
Kementerian Luar Negeri dan Perhubungan Laut India tidak menanggapi permintaan komentar. Kedutaan Besar Iran di India tidak menanggapi permintaan komentar yang dikirim melalui email.
Anil Trigunayat, mantan duta besar India untuk Yordania dan Libya, mengatakan fakta bahwa India mampu mengamankan perjalanan yang aman menunjukkan bahwa diplomasi itu mungkin.
"Iran juga tidak ingin merusak hubungan dengan semua pihak pada saat ini," katanya. "India, jika diperlukan, juga dapat berperan sebagai perantara. Faktor-faktor ini secara kolektif telah memungkinkan India mendapatkan peluang ini."
(bbn)




























