Pasar terguncang oleh gangguan pasokan dari Teluk Persia, dengan Selat Hormuz hampir terhenti. Dengan luas sekitar sepertiga Manhattan, Pulau Kharg berpotensi diambil alih dengan cepat dan menjadi leverage penting dalam upaya menekan Teheran agar membuka blokade jalur perairan tersebut.
Pejabat AS menyebut Gedung Putih mengirim ratusan marinir ke Timur Tengah. Donald Trump kembali mengkritik sekutu militer, termasuk anggota North Atlantic Treaty Organization serta China, karena menolak membantu membuka blokade selat yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global.
“Investor awalnya mengira perang Iran akan berlangsung singkat,” kata Jose Torres dari Interactive Brokers.
“Namun seiring meningkatnya agresi tanpa tanda-tanda berakhir, tekanan di Wall Street terus berlanjut.”
Gubernur The Fed Christopher Waller mengatakan ia berhati-hati terhadap dampak harga minyak terhadap inflasi, meskipun pelemahan pasar tenaga kerja masih bisa membuka ruang penurunan suku bunga. Wakil Ketua The Fed untuk Pengawasan, Michelle Bowman, mengatakan kepada Fox Business bahwa ia mendukung tiga kali penurunan suku bunga pada 2026 dan memperkirakan pertumbuhan tetap kuat, namun tetap memantau perkembangan perang.
“The Fed terjebak antara perlambatan pertumbuhan dan tekanan inflasi yang kembali meningkat, tanpa ada sisi yang benar-benar dominan,” ujar Julia Hermann dari New York Life Investment Management.
“Pasar saham masih berada di wilayah negatif sepanjang tahun ini, dan mencetak level terendah baru pada 2026 minggu ini, yang menunjukkan bahwa pasar kemungkinan belum menemukan titik dasar dan masih dalam proses menilai serta memperhitungkan durasi konflik di Timur Tengah,” kata David Laut dari Kerux Financial.
Sejak pecahnya perang, indeks S&P 500 telah turun sekitar 5,5%. Indikator tersebut mencatat penurunan selama empat minggu berturut-turut, rentetan terpanjang dalam setahun.
Aset lindung nilai tradisional tidak memberikan perlindungan bagi investor, dengan obligasi kehilangan nilai karena pelaku pasar bereaksi terhadap inflasi dan kekhawatiran anggaran federal, sementara emas justru merosot, ujar Mark Hackett dari Nationwide.
Dana pasar uang menjadi pilihan aset aman utama, tambah Hackett, mengindikasikan bahwa investor lebih memilih menempatkan dana di posisi “menunggu” daripada melakukan pergeseran alokasi secara struktural.
Trader obligasi kini mencari strategi baru setelah guncangan harga minyak menggagalkan taruhan populer terhadap pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve. Hingga Jumat, sentimen berbalik tajam sehingga pelaku pasar kini justru bertaruh bank sentral mungkin perlu menaikkan suku bunga untuk melawan inflasi.
“Kami tidak sependapat dengan penilaian tersebut karena lonjakan harga minyak seharusnya menunda pemangkasan suku bunga The Fed di tengah tekanan stagflasi. Namun, kenaikan harga minyak yang cukup besar bisa memicu guncangan kondisi keuangan yang pada akhirnya mungkin memaksa The Fed merespons dengan pemangkasan,” kata Gennadiy Goldberg dari TD Securities.
Pergerakan utama di pasar:
Saham
- Indeks S&P 500 turun 1,5% pada pukul 16.00 waktu New York
- Nasdaq 100 turun 1,9%
- Dow Jones Industrial Average turun 1%
- MSCI World Index turun 1,4%
Mata Uang
- Bloomberg Dollar Spot Index naik 0,5%
- Euro turun 0,2% menjadi US$1,1561
- Pound Inggris turun 0,7% menjadi US$1,3338
- Yen Jepang turun 1% menjadi 159,29 per dolar
Kripto
- Bitcoin turun 0,6% menjadi US$70.093,31
- Ether turun 0,7% menjadi US$2.132,06
Obligasi
- Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun naik 13 basis poin menjadi 4,38%
- Imbal hasil obligasi 10 tahun Jerman naik 8 basis poin menjadi 3,04%
- Imbal hasil obligasi 10 tahun Inggris naik 15 basis poin menjadi 4,99%
Komoditas
- Minyak mentah West Texas Intermediate naik 2,5% menjadi US$97,94 per barel
- Emas spot turun 3,2% menjadi US$4.501,70 per ons
(bbn)



























