Insiden ini menandai eskalasi terbaru dalam konflik di kawasan, setelah serangkaian serangan yang menargetkan infrastruktur minyak dan gas dalam beberapa hari terakhir. Peristiwa tersebut juga mendorong lonjakan harga gas alam, dengan kontrak berjangka di Eropa naik hingga 35% pada Kamis, menjadi lebih dari dua kali lipat dibandingkan level sebelum perang. Lonjakan ini menegaskan risiko inflasi jangka panjang dari konflik di Timur Tengah yang kini telah memasuki pekan ketiga.
Fasilitas Train 4 dan Train 6 di Ras Laffan merupakan usaha patungan dengan Exxon Mobil Corp.. Serangan tersebut juga menargetkan fasilitas Pearl gas-to-liquids di dekatnya, yang dioperasikan oleh Shell Plc dan mengubah gas alam menjadi oli mesin, parafin, dan lilin. Kerusakan di fasilitas tersebut masih dalam tahap penilaian, dan pabrik diperkirakan akan berhenti beroperasi setidaknya selama satu tahun, kata Saad al-Kaabi.
Seorang juru bicara Kementerian Perdagangan, Industri, dan Energi Korea Selatan mengatakan bahwa meskipun pihaknya terus memantau ketidakpastian di pasar LNG global, saat ini negara tersebut tidak menghadapi masalah pasokan gas. Qatar hanya menyumbang sekitar 14% dari pasokan mereka sepanjang tahun ini, dan sumber impor alternatif masih tersedia, tambahnya.
Permusuhan perlu berakhir agar produksi dapat kembali berjalan, menurut laporan sebelumnya yang mengutip pernyataan al-Kaabi.
QatarEnergy juga menyatakan bahwa mereka memperkirakan kehilangan produksi sekitar 18,6 juta barel kondensat, yang mewakili 24% dari ekspor Qatar, 13% dari ekspor gas petroleum cair (LPG), dan sekitar 14% dari ekspor helium.
(bbn)



























