Logo Bloomberg Technoz

Dia menambahkan pemerintah juga tengah menghitung rencana penerapan pajak ekspor batu bara untuk memperkuat posisi APBN di tengah risiko kenaikan harga energi saat ini.

“Harapannya pendapatan pemerintah juga naik dengan adanya windfall profit, itu juga akan ada pendapatan pemerintah yang ikut meningkat,” kata dia.

Pergerakan futures batu bara New Castle./dok. Bloomberg

Pada Senin (16/3/2026), harga batu bara di pasar ICE Newcastle untuk kontrak pengiriman bulan mendatang ditutup di US$ 135/ton. Terpangkas 1,68% dibandingkan hari sebelumnya.

Harga komoditas ini pun genap turun dua hari berturut-turut. Selama dua hari tersebut, harga terpotong 2,7%.

Pada 9 Maret lalu, harga batu bara menyentuh titik tertinggi sejak November 2024 atau lebih dari setahun terakhir yaitu di US$ 143,8/ton. Namun selepas itu, harga cenderung turun meski masih bertahan di level tinggi.

Kenaikan harga minyak bumi ikut mengerek batu bara. Sejak serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran, harga si emas hitam meroket.

Dalam sepekan terakhir, harga minyak jenis brent melesat 17,37%. Sedangkan yang jenis light sweet terangkat 15,08%.

Saat harga minyak makin mahal, ini akan mendorong peralihan ke sumber energi primer lainnya termasuk batu bara. Ekspektasi peningkatan permintaan mendorong harga batu bara ke utara.

Sebelumnya, Kementerian ESDM berencana untuk memangkas target produksi batu bara 2026 menjadi sekitar 600 juta ton atau setengah dari persetujuan RKAB tahun sebelumnya sekitar 1,2 miliar ton.

Dirjen Minerba Kementerian ESDM Tri Winarno menegaskan pemerintah bakal memangkas target produksi secara proporsional.

Salah satu aspek yang dipertimbangkan, kata Tri, yakni seberapa besar setoran PNBP ke negara yang dikontribusikan perusahaan batu bara tersebut.

“Namun, otomatis kita proporsional artinya yang PNBP-nya gede, yang kontribusinya gede itu otomatis pemotongannya enggak begitu [besar],” kata Tri ketika ditemui di Menara Bank Mega, Kamis (5/2/2026).

(naw)

No more pages