Dia mengatakan realisasi cadangan beras pemerintah tersebut berada sedikit di bawah capaian tertinggi sebesar 4,2 juta ton pada tahun ini. Meski demikian, pemerintah memproyeksikan cadangan beras pemerintah bisa mencapai 6 juta ton pada 2026.
“Memang tahun lalu tertingginya di 4,2 juta ton, saya kira nanti ini proyeksinya sampai dengan 6 juta ton bisa disimpan di gudang Bulog,” ujar Sudaryono dalam konferensi pers, Rabu (18/3/2026).
Selain itu, kata dia, beras yang beredar di masyarakat saat ini sekitar hampir 12 juta ton dan proyeksi tanaman yang akan memasuki panen sebesar 12 juta ton. Bila ditotal, jumlahnya mencapai 24 juta ton.
Sementara, ketahanan beras bisa mencapai 324 hari atau kira-kira 10,8 bulan hingga 11 bulan yang akan datang.
“Jadi kondisi pangan kita sangat kuat ya, sangat kuat. Dalam hal ini kalau yang paling sensitif kan beras. Itu kondisi pangan kita khususnya beras di mana beras adalah yang paling strategis dan paling sensitif ini kondisi ketahanan kita sangat kuat,” ujar dia.
Dalam Proyeksi Neraca Pangan Nasional yang disusun Badan Pangan Nasional, stok beras di awal 2026 tercatat sebesar 12,4 juta ton. Angka ini melonjak 202,4% dibandingkan stok awal tahun 2024 yang berada di level 4,1 juta ton. Kemudian jika dibandingkan stok awal 2025 yang sebesar 8,4 juta ton, terjadi kenaikan 47,6%.
Penguatan stok dan produksi tersebut turut berkontribusi terhadap stabilitas harga. Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi beras bulanan di tingkat eceran pada Januari 2026 berada di level 0,16%. Angka ini lebih rendah dibandingkan Desember 2025 yang sebesar 0,18%, sekaligus menjadi inflasi beras terendah dalam tiga tahun terakhir menjelang Ramadan.
(ros)



























