Tembaga, yang memulai tahun ini dengan tren bullish dan mencapai rekor tertinggi pada akhir Januari, telah turun lebih dari 8% bulan ini. Harganya turun 1% menjadi US$12.274 per ton pada pukul 11.15 pagi di Shanghai pada Kamis (19/3/2026).
Pedagang logam mempertimbangkan potensi gangguan pasokan—terutama di pasar aluminium—melawan ancaman terhadap aktivitas manufaktur global jika konflik memicu perlambatan ekonomi yang lebih luas. Permintaan logam di China sudah melemah sebelum AS dan Israel menyerang Iran.
Namun, penurunan harga logam juga akan membantu merangsang pembelian, terutama di kalangan konsumen China yang sebelumnya keberatan dengan harga tinggi pada awal tahun ini. Stok aluminium dan tembaga di China telah melonjak ke level rekor.
"Setelah harga turun, ekspektasi konsumsi di China telah membaik cukup signifikan, yang juga membantu pengurangan persediaan ke depannya," kata Wu dari Minmetals.
Aluminium turun 0,4% menjadi US$3.386,50 per ton, meski masih naik 13% sepanjang tahun ini. Seng, nikel, dan timah semuanya turun.
(bbn)





























