Logo Bloomberg Technoz

Rupiah di pasar offshore kembali dibanderol Rp17.026/US$ pada 07.08 WIB. Rupiah tembus di level Rp17.029/US$ pada penutupan perdagangan offshore kemarin dengan pelemahan 0,32%. 

Pelemahan rupiah di pasar offshore disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, lonjakan harga minyak mentah.

Minyak Brent sempat melonjak hingga US$111,75 per barel pada 03.36 WIB, dan saat ini bertahan di level US$107,38 per barel, menjadi posisi tertinggi sejak Juni 2022. 

Nilai kontrak rupiah di pasar offshore dalam tiga hari terakhir pada Kamis 07.08 WIB (19/3/2026). (Bloomberg)

Destry mengatakan bank sentral bakal mengoptimalkan sejumlah instrumen kebijakan moneter untuk memperkuat ketahanan eksternal dari kemungkinan eskalasi perang di Timur Tengah.

“Termasuk menempuh langkah-langkah penyesuaian yang diperlukan guna tetap konsisten dalam menjaga stabilitas perekonomian nasional,” kata dia.

Belakangan, kenaikan harga minyak mentah didorong serangan Iran terhadap Qatar yang mencakup fasilitas ekspor LNG terbesar di dunia.

Abu Dhabi juga telah menghentikan operasi di fasilitas gas Habshan. Serangan ini terjadi setelah satu ladang gas milik Iran diserang. 

Di sisi lain, bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) mempertahakankan tingkat suku bunga di level 3,50%-3,75% setelah rapat FOMC tadi malam, sesuai perkiraan pelaku pasar.

Namun, adanya nada hawkish dari Ketua Jerome Powell serta Summary of Economic Projection (SEP), yang hanya memproyeksikan dua kali pemangkasan suku bunga untuk 2026 dan 2027, mendorong penguatan dolar AS. Indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama menguat sebesar 0,5% menjadi 100.  

"Kenaikan harga energi dalam jangka pendek akan mendorong inflasi secara keseluruhan," kata Powell dalam konferensi pers.

Dia juga menyebut jika tidak melihat kemajuan dalam penurunan inflasi, akan sulit untuk memangkas suku bunga. 

Dalam rapat tersebut, para pejabat The Fed juga menaikkan proyeksi inflasi 2026 menjadi 2,7% dari sebelumnya 2,4%, serta memproyeksikan inflasi inti naik ke 2,7%. 

Risiko Inflasi

Di luar isu perang, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal domestik juga terus berlanjut. Di tengah kondisi defisit dan potensi inflasi akibat kenaikan harga minyak, pemerintah belum mempertimbangkan pemangkasan anggaran. 

Padahal, dengan selisih kenaikan harga minyak US$10 per barel dari angka yang ditetapkan dalam asumsi dasar APBN, Indonesia harus membayar lebih mahal dan dapat berkontribusi terhadap defisit sebesar Rp50 triliun. 

Sebagai catatan, asumsi dasar harga minyak mentah dalam APBN sebesar US$70 per barel. Saat ini, harga minyak berada di atas US$100 per barel, artinya sudah ada selisih sebesar US$30 lebih mahal.

Jika lonjakan harga minyak bertahan lebih lama, maka harga rata-rata minyak mentah juga akan terkerek naik. 

Di tengah kombinasi tekanan dan domestik tersebut, ruang stabilisasi rupiah dalam jangka pendek terlihat makin sempit.

Selama pasar domestik tutup, pergerakan di pasar offshore  melalui kontrak derivatif NDF berpotensi tetap menjadi penentu arah ekspektasi, terlebih dengan kuatnya sentimen eksternal yang didominasi oleh lonjakan harga energi dan penguatan dolar AS. 

Non Deliverable Forward alias NDF adalah sebutan yang merujuk pada kontrak derivatif mata uang dua belah pihak untuk mempertukarkan arus kas antara NDF dengan kurs spot yang berlaku. Satu pihak akan membayar pihak lain sebesar selisih yang dihasilkan dari transaksi tersebut.

BI dalam pemaparan setelah Rapat Dewan Gubernur pada Selasa (17/3/2026) menegaskan komitmennya untuk melakukan upaya stabilitas rupiah dengan intervensi, salah satunya di pasar NDF offshore. Efektivitas intervensi ini baru akan terlihat setelah pasar spot dibuka pada 25 Maret 2026 mendatang. 

(naw)

No more pages