Seiring dengan makin umumnya mobil listrik, diperkirakan mengurangi lebih banyak permintaan minyak pada akhir dekade ini.
Sebuah laporan terpisah yang dirilis pada Rabu (18/3/2026) oleh Ember, sebuah lembaga think tank yang berbasis di London, menemukan bahwa kendaraan listrik menghindari konsumsi 1,7 juta barel minyak per hari tahun lalu.
Daan Walter, analis di Ember, mengatakan angka yang lebih rendah tersebut didasarkan pada perkiraan konservatif tentang seberapa sering mobil hibrida plug-in beroperasi menggunakan bahan bakar fosil dan penjualan EV yang tinggi.
Ember menghitung bahwa, pada tingkat konsumsi saat ini dan dengan harga minyak US$80 per barel, China akan menghemat lebih dari US$28 miliar per tahun dalam pengurangan impor minyak melalui armada EV-nya yang besar, sementara Eropa akan menghemat US$8 miliar dan India US$600 juta per tahun.
Pertumbuhan penjualan EV global diperkirakan melambat tahun ini, dengan China mengurangi beberapa subsidi, Eropa meninggalkan rencana untuk menghapus mesin pembakaran internal pada 2035, dan AS melakukan perubahan haluan pada kebijakan teknologi bersih.
Namun, kenaikan harga bahan bakar yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah telah menghidupkan kembali minat pada EV.
“Kendaraan listrik semakin kompetitif secara biaya dengan mobil bensin,” kata Walter.
“Volatilitas harga minyak berarti kendaraan listrik adalah pilihan yang masuk akal bagi negara-negara yang ingin melindungi diri dari guncangan pada masa depan.”
Penjualan mobil listrik sebagai bagian dari total penjualan berada di atas 10% di 39 negara, dibandingkan dengan hanya empat negara pada 2019.
Negara-negara Asia termasuk yang paling cepat mengadopsi teknologi ini, sebuah tren yang telah memperlambat pertumbuhan permintaan minyak, menurut analisis Ember.
Pada 2025, Tiongkok mencapai lebih dari 50% penjualan kendaraan listrik untuk pertama kalinya, sementara pangsa tersebut adalah 38% di Vietnam dan 21% di Thailand.
(bbn)































