Menurutnya, dampak eskalasi tersebut sudah mulai terasa melalui keluarnya aliran modal portofolio asing dari negara emerging market, termasuk Indonesia, serta tekanan terhadap nilai tukar seiring penguatan dolar Amerika Serikat.
Selain itu, tingginya imbal hasil US Treasury juga mendorong kenaikan yield obligasi pemerintah di berbagai negara berkembang.
“Kesimpulan-kesimpulan tadi tentu saja seperti yang saya bilangkan kami terus akan mengoptimalkan di monitor tiga instrumen intervensi dengan kecukupan cadangan devisa dan diperkuat dengan kebijakan suku bunga.” kata Perry.
Perry juga mengatakan bahwa BI akan memperkuat kecukupan cadangan devisa guna merespons dinamika global yang terus berkembang serta menjaga stabilitas sistem keuangan domestik. Bank sentral juga akan terus mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan moneter untuk memperkuat ketahanan eksternal dari kemungkinan eskalasi perang Timur Tengah.
Sepanjang tahun 2025, BI telah menurunkan suku bunga lima kali dengan total pemangkasan sebesar 125 bps. Menurut analisis tim riset Bloomberg Technoz, hal ini membuat daya tarik investasi di aset rupiah sedikit berkurang, seiring selisih suku bunga dengan negara lain yang semakin mengecil.
(ell)

























