Logo Bloomberg Technoz

Amblesnya IHSG yang begitu dalam merupakan efek langsung dari turunnya sejumlah saham big caps.

Berikut selengkapnya berdasarkan data Bloomberg.

  1. Dian Swastatika Sentosa (DSSA) menekan 17,57 poin
  2. Bumi Resources Minerals (BRMS) menekan 12,73 poin
  3. Amman Mineral Internasional (AMMN) menekan 8,82 poin
  4. Barito Renewables Energy (BREN) menekan 7,42 poin
  5. Bank Central Asia (BBCA) menekan 7,13 poin
  6. Maha Properti Indonesia (MPRO) menekan 5,3 poin
  7. Bayan Resources (BYAN) menekan 5,2 poin
  8. Barito Pacific (BRPT) menekan 4,89 poin
  9. Telkom Indonesia (TLKM) menekan 4,22 poin
  10. Merdeka Copper Gold (MDKA) menekan 4,21 poin

Adapun saham–saham LQ45 lain juga jadi pendorong pelemahan IHSG, saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) drop 5,86%, saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) ambles 4,26% dan saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) juga terjebak di zona merah dengan turun 4,21%.

Disusul oleh pelemahan saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang terjun bebas 3,64%, saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) melemah 3,56%, dan saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) yang melemah 3,11%.

Ambrolnya IHSG siang hari ini turut terseret sentimen wait and see terhadap agenda penting Bank Indonesia (BI) yang menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) edisi Maret. Lusa, hasilnya akan diumumkan.

Satu yang ditunggu tentu pengumuman suku bunga acuan BI Rate. Apakah BI Rate akan kembali ditahan dalam RDG nanti?

Sepertinya demikian. Konsensus Bloomberg yang melibatkan 29 institusi memperkirakan BI Rate tetap ditahan di 4,75% dalam RDG kali ini.

Seluruhnya memperkirakan begitu. Sepakat bulat, aklamasi, tidak ada dissenting opinion.

Pertemuan berlangsung di tengah kondisi geopolitik yang belum stabil akibat serangan AS dan Israel terhadap Iran, menyebabkan lonjakan harga minyak ke posisi tertinggi sejak September 2022 hingga lebih dari US$100 per barel.

Imbasnya, arus keluar modal asing terus menerus diderita pasar keuangan Indonesia, ketidakpastian geopolitik yang terjadi dan risiko adanya inflasi impor akibat kenaikan harga minyak mentah dunia. 

Kenaikan harga minyak berpotensi menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Harga energi yang lebih tinggi ini juga berpotensi memperlebar defisit perdagangan minyak dan meningkatkan kebutuhan impor energi, yang pada akhirnya meningkatkan permintaan terhadap dolar AS. Kondisi ini dapat membuat rupiah bergerak lebih volatil, terutama jika sentimen global masih dibayangi ketegangan geopolitik.

Jika konflik Timur Tengah terus berlanjut dalam periode yang lama, dan harga minyak bertahan di level tinggi, tekanan terhadap pasar domestik berpotensi semakin besar. Bukan hanya karena dampaknya terhadap inflasi dan subsidi energi, tetapi juga karena meningkatnya kebutuhan stabilisasi nilai tukar.

Atas Nama Rupiah

Sepanjang 2026, nilai tukar rupiah amat lesu, melemah 1,79% dihadapan dolar Amerika Serikat dan nyaris menembus level terlemahnya sepanjang sejarah Rp17.000/US$.

Pada perdagangan siang hari ini, Senin, US$1 setara dengan Rp16.994/US$.

Mengutip data dari Kementerian Keuangan per Rabu (11/3/2026) sepanjang Maret, investor asing telah melepas kepemilikan aset berdenominasi rupiah mencapai sebesar US$657,6 juta. Jika menggunakan Kurs JISDOR pada 11 Maret Rp16.867/US$ maka nilai ini setara dengan Rp11,09 triliun.

Dengan berbagai kondisi yang ada, Bank Indonesia (BI) kemungkinan akan semakin berhati–hati untuk melanjutkan pemangkasan suku bunga di sepanjang tahun ini. 

(fad)

No more pages