Para pelaku pasar sepertinya mulai menerima bahwa konflik ini kemungkinan akan berlangsung cukup lama. Sementara itu, pelepasan cadangan minyak oleh agen energi internasional (IEA) dijadwalkan mulai dilakukan di Asia pekan ini.
Distribusi yang dilakukan IEA ini berpotensi meredakan kekhawatiran jangka pendek dan setidaknya dapat menekan volatilitas, meski perannya tetap kecil untuk menurunkan harga minyak secara berkelanjutan.
Domestik
Dari sisi domestik, perhatian pasar akan tertuju pada keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang hasilnya akan diumumkan besok. Dalam kondisi tekanan eksternal yang masih tinggi, BI diperkirakan akan tetap mempertahankan suku bunga acuan di 4,75%. Langkah ini dilakukan sebagai upaya menjaga stabilitas rupiah sekaligus mempertahankan selisih suku bunga dengan negara maju di tengah penguatan dolar AS.
Ruang bagi BI utuk melonggarkan kebijakan moneter juga makin terbatas lantaran risiko inflasi dari lonjakan harga energi makin meningkat. Inflasi inti domestik mulai menunjukkan tren naik, sementara kenaikan harga minyak berpotensi mendorong inflasi energi dan transportasi ke depan.
Di sisi lain, lonjakan harga minyak global juga berpotensi menekan neracara perdagangan energi Indonesia. Sebagai negara yang masih bergantung pada impor minyak mentah dan produk BBM, kenaikan harga energi akan meningkatkan kebutuhan impor serta memperbesar permintaan doalr AS di pasar domestik.
Dalam jangka pendek, kondisi semacam ini dapat menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Sejak perang pecah, rupiah sudah melemah 1,13%. Memang, jika dibandingkan dengan negara di kawasan, pelemahan rupiah relatif terbatas lantaran inflasi akibat harga minyak tidak berdampak langsung seketika karena ada skema subsidi.
Namun, jika harga minyak bertahan tinggi lebih lama dan tidak ada perubahan dalam postur anggaran, Kementerian Keuangan memperkirakan defisit akan mencapai 3,6% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Dengan kombinasi tekanan eksternal dari harga minyak, pergerakan rupiah dalam jangka pendek diperkirakan akan tetap berada dalam fase defensif.
(dsp/aji)





























