Logo Bloomberg Technoz

Permintaan datang dari sejumlah kota besar di Pulau Jawa seperti Jakarta, Bandung, hingga Tegal. Pesanan tersebut terus berdatangan seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat akan hunian yang layak.

Lonjakan permintaan tersebut membuat pihaknya harus bekerja lebih keras untuk menjaga kapasitas produksi tetap stabil. Ia juga terus berupaya memastikan kualitas produk tetap terjaga meskipun jumlah pesanan meningkat.

Namun di tengah peluang usaha yang terbuka lebar, Nurhasanah juga menghadapi tantangan dalam hal ketersediaan tenaga kerja. Ia mengungkapkan bahwa mencari pekerja baru tidak selalu mudah, terutama dari kalangan generasi muda.

“Permintaan sekarang semakin banyak, tetapi mencari tenaga kerja tidak mudah. Banyak anak muda yang lebih memilih bekerja di perusahaan,” ujar Nurhasanah.

Saat ini pabrik genteng milik keluarga Nurhasanah mempekerjakan sekitar 150 orang pekerja. Mayoritas tenaga kerja yang terlibat merupakan pekerja berusia lanjut yang telah lama berkecimpung dalam industri pembuatan genteng.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sektor kerajinan tradisional masih sangat bergantung pada tenaga kerja berpengalaman. Sementara itu, minat generasi muda untuk terjun ke bidang ini relatif masih terbatas.

Produksi Genteng Terus Meningkat

Dalam menjalankan kegiatan produksinya, usaha genteng keluarga ini telah menggunakan teknologi mesin untuk meningkatkan efisiensi kerja. Saat ini terdapat 12 unit mesin press yang digunakan untuk memproduksi genteng.

Dengan dukungan peralatan tersebut, kapasitas produksi mampu mencapai sekitar 16.000 keping genteng setiap minggunya. Produk-produk tersebut kemudian dikirim ke berbagai kota besar yang menjadi pasar utama.

Distribusi genteng dari Majalengka tersebut memperlihatkan bahwa sentra produksi daerah masih memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan bahan bangunan nasional. Permintaan yang stabil juga membantu menjaga keberlangsungan usaha para pengrajin.

Dari aktivitas produksi dan pemasaran tersebut, Nurhasanah mengaku mampu mencatatkan omzet yang cukup besar. Setiap bulan, usaha keluarga ini dapat menghasilkan pendapatan hingga ratusan juta rupiah.

Pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa usaha mikro di sektor bahan bangunan masih memiliki prospek yang menjanjikan. Terlebih ketika didukung oleh program pembangunan perumahan yang terus berjalan.

Di tengah peningkatan aktivitas usaha tersebut, Nurhasanah juga mengungkapkan bahwa permodalan bukan lagi menjadi kendala utama. Hal ini karena usaha yang dijalankannya telah memperoleh dukungan pembiayaan dari sektor perbankan.

Menurutnya, usaha keluarga tersebut mendapatkan akses pembiayaan melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang disalurkan oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI.

“Alhamdulillah untuk modal usaha kami terbantu dari program KUR BRI,” ungkapnya.

Nurhasanah menjelaskan bahwa kerja sama dengan BRI telah berlangsung selama sekitar empat tahun terakhir. Dukungan pembiayaan tersebut dinilai sangat membantu dalam menjaga stabilitas usaha.

Melalui fasilitas KUR, pelaku UMKM seperti dirinya dapat memperoleh akses modal dengan skema yang lebih terjangkau. Hal ini memungkinkan pelaku usaha untuk memperluas kapasitas produksi dan menjaga kelangsungan operasional.

Di sisi lain, BRI juga terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung perkembangan usaha mikro, kecil, dan menengah di berbagai sektor. Salah satunya melalui pembiayaan kepada pengrajin genteng yang menjadi bagian dari ekosistem sektor perumahan.

Direktur Utama BRI Hery Gunardi menyampaikan bahwa perbankan memiliki peran strategis dalam mendukung berbagai program pembangunan yang melibatkan pelaku UMKM.

Ia menjelaskan bahwa BRI siap mendukung program gentengisasi melalui penyaluran KUR serta memperkuat konektivitas antara produsen bahan bangunan dengan pasar.

Menurutnya, kehadiran BRI dapat menjadi penghubung antara pengrajin genteng dengan pihak pembeli maupun pengembang perumahan. Dengan demikian, rantai pasok industri bahan bangunan dapat berjalan lebih efektif.

“Peran BRI berada di tengah. Ketika sudah ada kontrak antara pengrajin dengan pembeli atau pengguna, BRI dapat hadir memberikan dukungan pembiayaan agar proses produksi dapat berjalan optimal,” jelasnya.

Hery juga menegaskan bahwa bahan bangunan seperti genteng merupakan bagian dari ekosistem KUR sektor perumahan yang terus dikembangkan oleh BRI. Program ini diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.

Sebagai bank yang memiliki fokus kuat pada pemberdayaan UMKM, BRI berkomitmen menghadirkan akses pembiayaan yang inklusif dan mudah dijangkau oleh masyarakat.

Melalui dukungan pembiayaan tersebut, para pelaku usaha kecil diharapkan mampu meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperluas jangkauan pasar.

Dengan meningkatnya permintaan genteng dan dukungan pembiayaan yang memadai, sektor usaha kerajinan bahan bangunan diproyeksikan dapat terus berkembang.

Program gentengisasi pun diharapkan tidak hanya memperbaiki kualitas hunian masyarakat, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi lokal serta membuka peluang usaha baru bagi pelaku UMKM di berbagai daerah.

(tim)

No more pages