Logo Bloomberg Technoz

Kendati demikian, harga PGAS saat ini telah mencerminkan pengembalian investasi 49,7% selama 12 bulan terakhir.

Sejumlah sekuritas yang menyematkan pandangan netral terhadap PGAS di antaranya UBS, J.P. Morgan dan Mandiri Sekuritas dengan target harga masing-masing Rp2.180 per saham, Rp2.100 per saham dan Rp1.600 per saham.

Sementara itu, analis dari Morgan Stanley Mayank Maheswari menyematkan pandangan underweight/in-line dengan target harga lebih rendah di kisaran Rp1.518 per saham.

Di sisi lain, Yuanta Investment dan Ajaib Sekuritas menyarankan buy untuk saham PGAS dengan target harga masing-masing Rp2.630 per saham dan Rp2.500 per saham.

Sentimen Dividen

J.P. Morgan berpendapat saham PGAS cenderung bergerak negatif pada jangka pendek lantaran keputusan dividen tahun buku 2025 berpotensi lebih rendah dari ekspektasi. 

“Rasio pembayaran dividen yang dinormalisasi sebesar 80% akan mengimplikasikan imbal hasil dividen hanya sekitar 5% berdasarkan harga penutupan terbaru,” tulis riset J.P. Morgan yang disusun Arnanto Januri, Benny Kurniawan dan Sumedh Samant, dikutip Jumat (13/3/2026).

Potensi penurunan dividen yang lebih rendah itu berasal dari beban penurunan nilai atau impairment sebesar US$100 juta pada kuartal IV-2025 atau sekitar 30% dari laba inti tahun penuh 2025.

Beban penurunan nilai itu berasal dari manuver manajemen PGAS menghapus sepenuhnya nilai aset hulu South Sesulu pada kuartal tersebut.

“Kemungkinan akan mengakibatkan pembayaran dividen yang lebih rendah dari perkiraan,” tulis tim analis J.P.Morgan.

Perusahaan Gas Negara (PGAS). (Dok. PGN)

Selain itu, Sucor Sekuritas belakangan ikut menurunkan rekomendasi untuk saham PGAS dengan alasan kenaikan harga saham perseroan belakangan telah mencerminkan prospek jangka pendek.

Sementara itu, menurut Sucor Sekuritas, fundamental perusahaan secara umum masih belum banyak berubah.

“Ketergantungan yang lebih tinggi pada LNG menimbulkan ketidakpastian terhadap dinamika volume dan margin,” kata analis Sucor Sekuritas Niko Pandowo seperti dikutip dari riset, Jumat (13/3/2026).

Sukor Sekuritas menurunkan rekomendasi PGAS menjadi hold dengan target harga berbasis discounted cash flow (DCF) sebesar Rp2.140, yang mengimplikasikan P/E tahun 2026 sebesar 11 kali dan EV/EBITDA sebanyak 2,4 kali.

Laba Merosot

Sebelumnya, PGAS mencatat laba bersih US$215,36 juta atau sekitar Rp3,6 triliun (asumsi kurs Rp16.720 per dolar AS) sepanjang 2025.

Laba bersih itu anjlok 36,55% dibandingkan dengan torehan sepanjang 2024 sebesar US$339,42 juta atau sekitar Rp5,48 triliun.

Mengutip laporan keuangan perseroan, PGAS mencatat pendapatan sebesar US$3,97 miliar atau sekitar Rp66,48 triliun sepanjang 2025.

Torehan pendapatan  itu naik 4,94% dari posisi tahun sebelumnya sebesar US$3,78 miliar atau sekitar Rp61,21 triliun.

Corporate Secretary PGAS Fajriyah Usman mengatakan perseroannya tetap menjaga kesinambungan penyaluran gas kepada pelanggan.

“Kami mengoptimalkan pemanfaatan infrastruktur gas dan LNG serta menerapkan pengelolaan volume secara adaptif,” kata Fajriyah lewat keterbukaan informasi dikutip Jumat (6/3/2026).

Di sisi lain, beban pokok pendapatan PGAS turut bergerak naik ke level US$3,27 miliar pada 2025 dari posisi beban tahun sebelumnya sebesar US$3,03 miliar.

Sepanjang 2025, PGAS mencatat volume niaga gas bumi sebesar 836 BBTUD. Sementara volume transmisi gas bumi naik 4% menjadi 1.609 MMSCFD dibandingkan tahun sebelumnya, seiring meningkatnya penyerapan pelanggan.

Kinerja operasional juga belakangan diperkuat segmen bisnis infrastruktur LNG. Volume regasifikasi melalui FSRU Lampung dan Terminal Regasifikasi Arun mencapai 254 BBTUD, tumbuh 17% dan berkontribusi pada keandalan penyaluran gas untuk berbagai sektor, termasuk industri dan pembangkit listrik.

Sementara itu, PGAS mencatat volume penyaluran minyak sebesar 174.811 BOEPD, didorong meningkatnya aktivitas pengangkutan minyak melalui jaringan pipa eksisting.

Sepanjang 2025, PGAS memperluas infrastruktur gas bumi dengan menambah lebih dari 230 kilometer jaringan pipa distribusi jargas, serta menjaga keandalan sistem operasi dengan tingkat availability mencapai 98,84%.

“Keandalan penyaluran gas bumi bagi pelanggan tetap menjadi prioritas utama PGN,” kata Fajriyah.

Sementara itu, kontribusi anak perusahaan dan afiliasi turut menguat dengan volume pemrosesan LPG sebesar 117 metrik ton per hari, naik 8%.

Sedangkan pencapaian lifting minyak dan gas sebesar 17.519 BOEPD.

Pada segmen LNG Trading Internasional, PGAS berhasil mengirim tujuh kargo LNG atau setara sekitar 59 BBTUD ke pasar internasional sepanjang 2025.

Di sisi lain, total liabilitas PGAS sampai akhir 2025 mencapai US$2,62 miliar, berasal dari liabilitas jangka pendek US$1,16 miliar dan liabilitas jangka panjang U$1,45 miliar.

Adapun, total aset PGAS bergerak ke level US$6,23 miliar, berasal dari aset lancar sebesar US$2,07 miliar dan aset tidak lancar US$4,15 miliar. Sementara itu, PGAS mencatat ekuitas neto sebesar US$3,6 miliar sampai akhir 2025.

(naw)

No more pages