Adapun, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengungkap masih memiliki waktu hingga akhir bulan ini untuk menyiapkan mitigasi dampak kenaikan harga dan pengetatan pasokan minyak dunia terhadap cadangan BBM di Tanah Air.
Laode menyatakan jika langkah mitigasi yang disiapkan tersebut tidak maksimal, Indonesia berpotensi menghadapi situasi yang sulit pada April 2026.
"Kita masih ada waktu sampai akhir Maret. Kita masih bisa menghadapi ini, walaupun tadi pagi saya rapat di kantor sudah mulai ada April nih ada sedikit pemikiran yang harus effort, extra-effort. Karena kita menyiapkan April itu sekarang, kalau sekarang kondisi yang tidak stabil, tidak bisa kita manfaatkan, maka April ini kita menghadapi masa-masa sulit," kata Laode dalam diskusi publik Aspebindo, Rabu (11/3/2026).
Laode mengungkap sejumlah negara di Asia Tenggara sudah menghadapi masa sulit tersebut sejak Maret, sementara Indonesia diklaim sudah mengamankan seluruh pasokan BBM dan minyak mentah untuk bulan ini.
Dengan begitu, dia mengklaim Kementerian ESDM bakal melakukan usaha ekstra untuk memastikan stok komoditas energi nasional tidak menurun secara drastis dan menimbulkan masalah selepas Idulfitri.
"Nah, kita sedang berpikir juga untuk setelah Maret, bagaimana prosesnya sedang kita lakukan inovasi-inovasi agar nanti kebutuhan dari komoditas yang saya bacakan tadi tidak menurun secara drastis dan menimbulkan masalah pada April dan ke depan," tegasnya.
Di sisi lain, sejumlah negara sudah mulai menerapkan pengetatan konsumsi BBM hingga melakukan kebijakan untuk melindungi pasokan BBM domestik.
Salah satu contohnya Vietnam, negara itu bakal menghapus tarif impor BBM dan mempermudah perusahaan raksasa negara PetroVietnam untuk membeli dan menjual minyak mentah dan produk minyak, seiring dengan meluasnya perang di Timur Tengah yang meningkatkan kekhawatiran akan keamanan energi.
Selain itu, Myanmar memberlakukan pembatasan kendaraan pribadi, menyusul gangguan pada jalur perdagangan migas di Timur Tengah. Mobil pribadi dan sepeda motor—kecuali kendaraan listrik—hanya akan diizinkan beroperasi di jalan raya setiap dua hari sekali berdasarkan nomor pelat kendaraan mereka.
Lalu, Thailand mengatakan akan menangguhkan ekspor bahan bakar. Pemerintah negara ini juga akan mewajibkan sebagian besar instansi pemerintah untuk menerapkan sistem kerja dari rumah atau work from home (WFH) sepenuhnya sebagai bagian dari langkah-langkah darurat untuk menekan permintaan energi.
Adapun, harga minyak mentah Brent melonjak kembali di atas US$100 per barel setelah perang Iran memicu gangguan lebih lanjut dalam perdagangan minyak di Timur Tengah, dan China memperketat pembatasan ekspor bahan bakar untuk mengatasi dampak konflik tersebut.
Patokan harga minyak global itu melonjak hingga 10% menjadi US$101,59 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melonjak mendekati US$96 per barel.
(azr/ros)





























