Dunia militer kini sangat bergantung pada ruang angkasa untuk berbagai kebutuhan, mulai dari identifikasi target, pemandu senjata, pelacakan rudal, hingga jalur komunikasi. Menegaskan peran sentral ruang angkasa dalam perang modern, pejabat AS pekan lalu menyatakan bahwa pasukan ruang angkasa mereka termasuk dalam "penggerak pertama" dalam operasi melawan Iran.
Juru bicara Komando Ruang Angkasa AS (US Space Command) enggan merinci kemampuan yang mereka gunakan. Namun, Komando Ruang Angkasa bertanggung jawab membantu pelacakan rudal, komunikasi aman, serta pemanfaatan satelit Pentagon sebagai pengawas bagi pasukan AS dan pasukan gabungan di darat.
Jika dulu citra satelit berkualitas tinggi hanya dikuasai oleh negara-negara dengan teknologi ruang angkasa maju, kini kehadiran citra satelit komersial telah membuat persaingan menjadi lebih setara, sebagaimana yang dialami Ukraina dalam perangnya melawan Rusia. Saat ini, para operator satelit mulai mengerahkan kecerdasan buatan (AI) untuk mempercepat analisis citra dan mengidentifikasi area yang dianggap penting.
"Analisis ahli semacam ini dulu hanya dimiliki oleh analis militer kelas atas, tapi sekarang tidak lagi," kata Chris Moore, konsultan industri pertahanan dan pensiunan Marsekal Muda Angkatan Udara Inggris.
"Pada akhirnya, hal ini akan menciptakan 'mata yang melihat segalanya' dari ruang angkasa, yang akan membuat upaya penyembunyian kekuatan militer maupun operasi pengecohan menjadi sangat sulit dilakukan."
(del)


























