Logo Bloomberg Technoz

Laode juga mencatat serangan yang terjadi terhadap sejumlah fasiltias energi di Rusia turut meningkatkan sentimen pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak dunia.

Selain faktor geopolitik, lanjut Laode, pergerakan harga minyak juga dipengaruhi oleh kondisi pasokan minyak dunia.

Terkait dengan hal itu, International Energy Agency (IEA) melaporkan terdapat penurunan produksi minyak global pada awal 2026, termasuk penurunan produksi dari negara-negara OPEC+.

“Kondisi tersebut berkontribusi terhadap semakin ketatnya keseimbangan pasokan minyak di pasar global," tegas Laode.

Di sisi lain, Laode mengungkapkan kenaikan harga minyak mentah juga dipengaruhi penurunan stok produk minyak di Amerika Serikat (AS).

Di kawasan Asia Pasifik, pergerakan harga minyak juga dipengaruhi oleh meningkatnya aktivitas pengolahan minyak di Singapura.

Crude throughput Singapura tercatat naik 1% secara bulanan pada akhir Februari 2026 menjadi 89% dari total kapasitas 1,12 juta barel per hari (bph).

“Selain itu, China juga meningkatkan cadangan minyak strategis hingga 1 juta barel, sehingga turut memperketat fundamental pasar minyak mentah dari sisi pasokan dan permintaan,” ungkap Laode.

Adapun, perkembangan harga rata-rata minyak mentah utama pada Februari 2026 dibandingkan dengan Januari 2026 mengalami peningkatan sebagai berikut:

  1. Brent (ICE) naik sebesar US$4,64/barel dari US$64,73/barel menjadi US$69,37/barel.
  2. Dated Brent naik sebesar US$4,35/barel dari US$66,80/barel menjadi US$71,15/barel.
  3. WTI (Nymex) naik sebesar US$4,26/barel dari US$60,26/barel menjadi US$64,52/barel.
  4. Basket OPEC naik sebesar US$5,48/barel dari US$62,31/barel (per 30 Januari 2026) menjadi US$67,79/barel (per 26 Februari 2026).
  5. Rata-rata ICP minyak mentah Indonesia naik sebesar US$4,38 dari US$64,41/barel menjadi US$68,79/barel.

(azr/wdh)

No more pages