Logo Bloomberg Technoz

Gangguan ini telah menyebabkan harga minyak melambung tinggi, dengan minyak mentah Brent sempat menembus angka jauh di atas US$100 per barel. Harga tersebut baru sedikit melandai setelah Presiden Donald Trump memberikan sinyal pada hari Senin bahwa perang mungkin akan segera berakhir.

Meskipun demikian, biaya energi, pupuk, dan transportasi terus merangkak naik. Hal ini membuat negara-negara berkembang sangat rentan terhadap guncangan harga, mengingat beban utang mereka yang tinggi dan meningkatnya biaya pinjaman.

Akses terhadap pupuk diprediksi akan memburuk bagi beberapa negara termiskin, termasuk Sudan, Somalia, Tanzania, dan Mozambik, yang mengimpor sebagian besar kebutuhan pupuk mereka melalui Teluk Persia. Pakistan, Sri Lanka, dan Kenya juga berada dalam posisi rentan. Bahkan, negara maju seperti Australia dan Selandia Baru mendapatkan sekitar 30% pasokan pupuk mereka dari wilayah tersebut.

Secara total, studi tersebut mengungkapkan bahwa sekitar sepertiga dari perdagangan pupuk laut global, atau sekitar 16 juta ton, melewati Selat Hormuz pada tahun 2024.

Pada saat yang sama, kenaikan biaya pinjaman telah memengaruhi imbal hasil obligasi di seluruh Timur Tengah. Irak, Bahrain, dan Yordania mencatatkan kenaikan tertinggi di kawasan tersebut sejak Januari lalu, yang semakin memperberat beban ekonomi negara-negara tersebut.

(bbn)

No more pages