Logo Bloomberg Technoz

Kemarin, Rabu (11/3/2026), IHSG kembali ditutup melemah 0,69% ke level 7.389,39, padahal indeks sempat menguat 1,16% sesaat setelah pembukaan ke level 7.527,32.

Pergerakan IHSG yang mendadak berbalik arah itu bersamaan dengan pengumuman realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Februari 2026 yang masih mencatatkan defisit sebesar Rp135 triliun atau sebesar 0,53%.

Anggaran MBG

Rencana untuk mengutak-atik anggaran MBG Purbaya sampaikan pada akhir pekan lalu, Jumat (6/3/2026). Rencana ini muncul setelah Bendahara Negara melakukan simulasi atau stress test atas dampak kenaikan harga minyak dunia.

"Kami sudah exercise sampai kalau harga minyak naik ke US$92/barel, apa dampaknya ke defisit? Naik ke 3,6%—3,7% kalau enggak salah, dari PDB, itu kalau kita enggak ngapa-ngapain," kata Purbaya dalam media briefing, Jumat (6/3/2026) petang.  

Untuk mencegah defisit melebar, pemerintah menyiapkan sejumlah langkah penyesuaian belanja negara. Salah satunya melalui efisiensi anggaran di sejumlah program, termasuk MBG.

“Kalau itu kami akan melakukan langkah-langkah supaya itu tidak terjadi. Bisa penghematan di mana? Misalnya penghematan di MBG,” ujar Purbaya.

Meski demikian, Purbaya menegaskan penghematan anggaran tersebut tidak akan menyentuh anggaran utama program MBG, khususnya untuk penyediaan makanan bagi penerima manfaat seperti anak sekolah, ibu hamil, dan lansia.

Kemudian pada Selasa (10/3/2026), Purbaya menegaskan kembali rencananya tersebut. Dia menegaskan tidak akan memotong anggaran MBG dalam waktu dekat. Hanya saja, ia akan meminta Badan Gizi untuk lebih efisien.

“Kami tidak akan motong, cuma akan kami pastikan jalan lebih efisien saja. Nanti kalau belanja-belanja tidak jelas, seperti mau beli motor jangan beli dulu,” kata Menkeu kepada Bloomberg Technoz.

Menurut Branch Manager Panin Sekuritas Elandry Pratama, wacana tersebut belum cukup menjadi sentimen yang mendorong IHSG minimal kembali ke kisaran 8.000 dalam waktu dekat.

"Pasar akan lebih percaya kalau sudah ada langkah konkret yang terlihat dampaknya ke defisit APBN. Kalau itu mulai jelas, sentimen pasar juga ikut membaik," jelas Elandry.

Dia menambahkan, dari sisi teknikal, IHSG baru akan dikatakan aman jika berhasil menembus dan bertahan di area support 7.500. 

"Jadi untuk jangka menengah, peluang ke 8.000 masih terbuka. Tapi dalam jangka pendek, pergerakan IHSG kemungkinan masih fluktuatif dan sensitif terhadap sentimen makro."

Saham Energi

Masuk ke indikator yang lebih spesifik, saham-saham dari sektor energi yang secara umum mengekor kenaikan harga minyak juga justru melemah. 

Alih-alih minimal menjadi bantalan, saham sektor energi kemarin melemah 2,01%, terbesar kedua setelah penurunan sektor industri dasar. Dengan penurunan ini, saham sektor energi sudah mengakumulasi penurunan hampir 15% sejak awal tahun.

Saham sektor konsumer yang cenderung defensif saat krisis, baik siklikal maupun non-siklikal, turut melemah. Secara akumulasi sejak awal tahun, kedua sektor ini bahkan mencatat penurunan yang juga cukup signifikan (lihat tabel). 

Perfroma Indeks per 11 Maret 2026 (Sumber: IDX).

Pengamat Pasar Modal Reydi Octa mengatakan, kecenderungan penurunan sektor energi, khususnya saham emiten migas, lebih disebabkan oleh sentimen risk-off pasar secara keseluruhan, bukan karena sentimen minyaknya hilang.

"Terkait dengan potensi defisit APBN jika minyak mendekati US$92/barel, memang ada risiko karena subsidi energi bisa meningkat. Namun, bagi emiten migas hulu, harga minyak tinggi tetap menjadi katalis positif dari sisi pendapatan, bukan perubahan fundamental sektor energi itu sendiri," jelas Reydi.

Secara terpisah, Ekonom Panin Sekuritas Muhammad Zaidan menjelaskan, Indonesia merupakan salah satu emerging market yang terbilang relatif berisiko. Eskalasi geopolitik ini memicu aksi risk off oleh pasar. 

Pada konteks terkini, negara yang memiliki status sebagai net importer minyak mentah menjadi yang paling tidak diuntungkan. 

Hal ini sejalan dengan disrupsi Selat Hormuz yang mengancam sekitar 20% pasokan minyak dan gas global. Terlihat bagaimana indeks regional Asia, termasuk Indonesia (IHSG) cenderung tertekan. Perlu dicatat bahwa Indonesia menjadi net importir minyak kisaran USD23,82 miliar. 

"Jika melihat IHSG lebih spesifik, beberapa data yang menunjukkan adanya risk off terhadap pasar modal domestik Indonesia seperti naiknya country risk di mana terjadi pelebaran spread SBN valas terhadap UST tenor 10 tahun, depresiasi rupiah yang sempat menembus level psikologis Rp17.000 per dolar AS, hingga kenaikan persepsi risiko terhadap pasar Indonesia yang tercermin dari Credit Default Swap (CDS) yang berada di level tertinggi sejak April 2025." 

Beberapa penilaian terbaru dari lembaga pemeringkat utang internasional seperti Moody's dan Fitch Ratings juga mendorong narasi yang kurang akomodatif bagi pasar saham. Hanya saja sentimen ini cukup signifikan di pasar SBN dan relatif terbatas terhadap pasar saham.

Saat ini, Lanjut Zaidan, sepertinya masih terlalu dini untuk mengatakan bahwa pasar akan cenderung mengurangi eksposurnya di pasar keuangan Indonesia. 

Hanya saja, berkaca dari tren tahun lalu di mana aliran investasi portfolio tercatat net outflow oleh asing menyiratkan bahwa terdapat potensi tren yang berlanjut apabila tidak terdapat reformasi yang signifikan khususnya dari perbaikan tata kelola kebijakan pemerintah dan kepiawaian pengelolaan belanja negara di tengah kebutuhan anggaran untuk program prioritas pemerintah. 

"Misalnya, jika pemerintah tetap mendorong pos belanja negara yang kurang produktif di tengah risiko beban subsidi BBM imbas kenaikan harga minyak ini, maka pelebaran defisit APBN dapat dibaca sebagai sentimen yang buruk oleh pasar."

-- Dengan asistensi Nyoman Ari, Artha Adventy, dan Muhamad Fikri

(dhf/wdh)

No more pages