“Dan pada saat itu apa yang kita alami lebih buruk dalam konteks pasar daripada hari ini,” tuturnya.
Di sisi lain, dia memastikan, infrastruktur serta perangkat regulasi yang dimiliki BEI saat ini telah dipersiapkan untuk menghadapi dinamika pasar.
“Sistem infrastruktur dan peraturan di bursa kita sudah siap untuk menghadapi dinamika pasar yang sedang ada,” kata dia.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona merah dengan melemah 3,27% di posisi 7.337,36 pada Senin (9/3/2026). Sejumlah saham LQ45 berikut ini justru berhasil melesat, saham ITMG misalnya, menguat 4,91% point–to–point.
Sepanjang perdagangan, IHSG terus–menerus melanjutkan tren pelemahan di zona merah dengan penurunan terdalam menyentuh 7.156,68. Dengan posisi tertinggi IHSG sempat tersentuh sesaat di level 7.403,73.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan nilai perdagangan mencapai Rp23,88 triliun dari sejumlah 46,8 miliar saham yang ditransaksikan.
Dengan frekuensi yang terjadi 2,47 juta kali jual–beli. Tercatat masih ada penguatan 68 saham, dan 708 saham terjadi pelemahan. Sisanya 41 saham stagnan.
Saham–saham transportasi, saham barang baku, dan saham properti mencatatkan kejatuhan paling dalam, dengan masing–masing minus 5,21%, 4,59%, dan 4,57%.
Perkecil Taruhan
Sejumlah analis menilai koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) disebabkan karena sentimen risk-off global di tengah eskalasi konflik Timur Tengah yang masih berlanjut.
Analis Fundamental BRI Danareksa Abida Massi Armand mengatakan investor, cenderung menghindari eksposur terhadap aset berisiko, termasuk saham di emerging markets seperti Indonesia.
Selain itu, lonjakan harga minyak mentah di pasar global juga memperbesar kekhawatiran pasar.
Harga minyak mentah naik 26,29% ke level tertinggi sejak tiga tahun terakhir di level US$116 per barel pada 09:54, Senin (9/6/2026).
“Kondisi tersebut memicu kekhawatiran inflasi global dan membuat investor lebih defensif,” kata Abida saat dihubungi, Senin (9/6/2026).
Dari sisi domestik, Abida menambahkan, pasar juga mencermati risiko fiskal Indonesia jika harga minyak bertahan tinggi.
Terlebih, dia menggarisbawahi, lembaga pemeringkat global belakangan menurunkan outlook rating utang Indonesia menjadi negatif.
“Hal ini membuat investor makin berhati-hati terhadap aset Indonesia,” imbuhnya.
Ekonom Panin Sekuritas Muhammad Zaidan membeberkan sejumlah data yang belakangan menunjukkan aksi risk off terhadap pasar keuangan domestik Indonesia.
Misalkan, dia mencontohkan, naiknya country risk Indonesia dengan pelebaran spread Surat Berharga Negara (SBN) Valas terhadap UST tenor 10 tahun, lalu nilai tukar rupiah yang tertekan hingga sempat menembus level psikologis Rp17.000 per dolar AS.
“Hingga kenaikan persepsi risiko terhadap pasar Indonesia yang tercermin dari Credit Default Swap (CDS) yang berada di level tertinggi sejak April 2025 lalu,” kata Zaidan saat dihubungi, Senin (9/3/2026).
Menurut dia, sentimen risk off itu relatif terbatas terhadap pasar saham. Kendati demikian, sentimen pengurangan eksposur itu terjadi signifikan di pasar SBN.
Hanya saja, dia menambahkan, tren outflow dana asing berpotensi berlanjut apabila tidak ada perbaikan dari sisi pengelolaan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).
“Misalnya, jika pemerintah tetap mendorong pos belanja negara yang kurang produktif di tengah risiko beban subsidi BBM imbas kenaikan harga minyak ini, maka pelebaran defisit APBN dapat dibaca sebagai sentimen yang buruk oleh pasar,” kata dia.
(rtd/naw)


























