Simon menjelaskan seluruh operasional sagas bakal dipantau secara terintegrasi melalui command center dan sistem pemantauan digital yang memungkinkan pemantauan distribusi energi secara terus menerus.
“Sistem ini juga memanfaatkan data analitik dan predictive monitoring untuk mengantisipasi potensi gangguan distribusi energi serta memastikan mekanisme pengambilan keputusan yang cepat melalui forum koordinasi dan crisis center yang telah disiapkan,” ungkap dia.
Tender BBM
Di sisi lain, Pertamina baru saja membuka tender yang diduga melalui pasar spot untuk mencari BBM berupa dua kargo solar dengan sulfur 0,25% masing-masing sebesar 200.000 barel dan dua kargo bensin RON 98 masing-masing berukuran 35.000 barel.
Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron menyatakan tender tersebut merupakan kegiatan rutin perseroan sebagi salah satu sumber untuk memenuhi stok nasional.
Dia memastikan tender dilakukan melalui mekanisme komersial yang transparan dan sesuai aturan tata kelola yang berlaku.
“Tender crude maupun produk merupakan kegiatan rutin Pertamina sebagai salah satu source untuk memenuhi ketahanan energi nasional, baik untuk kebutuhan di kilang maupun distribusi energi,” kata Baron ketika dihubungi, Senin (9/3/2026).
“Pertamina berupaya menjaga pasokan dan distribusi BBM untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” tegasnya.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun menyatakan tender tersebut merupakan mekanisme reguler yang biasa dilakukan Pertamina. Dia juga memastikan tender tersebut dilakukan tidak terkait dengan ditutupnya Selat Hormuz di Timur Tengah.
“Ya, bukan karena geopolitik. Info yang saya dapat adalah tender reguler, sehingga menyesuaikan dan mengacu dengan prosedur dan tahapan yang ada sesuai aturan tender dan pengadaan,” kata Roberth ketika dihubungi Senin (9/3/2026).
Adapun, PT Pertamina Patra Niaga memprediksi konsumsi BBM jenis bensin melonjak hingga 12% pada momen Idulfitri 2026. Sementara itu, permintaan BBM jenis solar atau diesel atau gasoil, diprediksi melandai hingga 14,5%.
Sekadar catatan, berdasarkan data Kementerian ESDM per akhir pekan lalu, status cadangan BBM nasional tercatat tahan selama 23 hari, masih di bawah standar Badan Energi Nasional atau International Energy Agency (IEA) 90 hari cadangan minyak mentah atau produk BBM.
Kementerian ESDM menegaskan kapasitas cadangan minyak mentah Indonesia saat ini hanya cukup untuk 25 hari, dengan begitu pemerintah berencana membangun tangki penyimpanan minyak mentah tambahan untuk meningkatkan stok BBM nasional.
(azr/wdh)





























