Ia menilai kemacetan lalu lintas serta persoalan infrastruktur juga dapat meningkatkan biaya perjalanan masyarakat. Kondisi ini berpotensi membuat sebagian dana THR justru habis untuk biaya tambahan atau pengeluaran tak terduga selama perjalanan.
"Ini pada akhirnya akan mempengaruhi bagaimana pemudik mengalokasikan THR yang mereka dapatkan," sambungnya.
Di samping itu, tekanan inflasi juga diperkirakan datang dari faktor eksternal. Menurut Manap, kondisi geopolitik global yang masih memanas berpotensi menekan nilai tukar rupiah. Pelemahan rupiah pada akhirnya dapat meningkatkan inflasi impor yang kemudian berdampak pada harga barang di dalam negeri.
"Dengan adanya tantangan-tantangan dari sisi inflasi bahan makanan, inflasi energi, nilai tukar, dan depresiasi, pada akhirnya meningkatkan inflasi impor. Maka ini akan mempengaruhi inflasi secara keseluruhan," tegasnya.
Sehingga melihat kondisi tersebut, ia berpandang bahwa tambahan pendapatan masyarakat dari THR belum tentu sepenuhnya mampu meningkatkan daya beli. Sebaliknya, sebagian besar dana tersebut kemungkinan hanya digunakan untuk menahan agar daya beli tidak semakin tergerus oleh kenaikan harga.
"Jadi, pada saat ada peningkatan THR, agak sulit untuk memaksimalkan THR ini karena inflasinya menekan dari berbagai sisi, baik supply maupun demand. Pada bagian lain, THR yang terbatas ini juga diharapkan mampu meningkatkan daya beli di masyarakat," pungkasnya.
(lav)































