Rupiah di perdagangan pasar spot siang ini melemah 0,43% ke Rp16.978/US$, setelah sempat dibuka di posisi terlemah sepanjang sejarah yaitu Rp17.015/US$. Sementara dari pasar offshore rupiah sempat dibuka menguat 0,11% di Rp16.941/US$ lalu melemah 0,27% ke Rp17.005/US$ pada pukul 10:55 WIB.
Harga minyak mentah Brent berada di atas US$100 per barel pagi ini, seiring meningkatnya kekhawatiran perang Iran akan terus berlanjut dan menimbulkan gangguan pasokan energi yang serius. Sebab, sekitar 20% pasokan minyak global dikirim dari Selat Hormuz yang kini ditutup.
Hal ini membawa dampak bagi pasar negara berkembang, termasuk Indonesia dengan aset rupiahnya yang dilepas investor dengan sentimen risk-off yang semakin kuat belakang ini akibat guncangan energi dari perang AS-Iran.
Semakin lama guncangan energi ini berlangsung, semakin membuat rentan perekonomian global. Setidaknya, gangguan pasokan energi akan membawa tekanan terhadap kenaikan inflasi, serta adanya tekanan pada pertumbuhan ekonomi.
Tekanan Inflasi
Selain minyak, penutupan Selat Hormuz juga dapat menyebabkan distribusi perdagangan global menjadi terganggu. Setidaknya ada 4,5% kapal perdagangan global tahunan melewati selat ini. Perang AS-Iran akan membuat lalu lintas selat tersebut menjadi lambat.
Lonjakan harga minyak mentah juga membuka potensi tekanan baru terhadap inflasi domestik. Indonesia tercatat sebagai net importer minyak berpotensi akan menghadapi kenaikan biaya impor energi ketika harga minyak bertahan di atas US$100 per barel lebih lama.
Kenaikan ini umumnya akan merembet ke berbagai komponen harga domestik. Seperti kenaikan biaya bahan bakar dan transportasi, yang juga kemudian akan meningkatnya biaya distribusi barang. Juga kenaikan biaya produksi industri, terutama sektor yang bergantung pada energi seperti manufaktur, logistik, dan pangan olahan.
Bloomberg Economics memberi catatan, tanpa intervensi pemerintah atau dampak lain, inflasi pada akhir tahun diperkirakan mencapai sekitar 4,8% di Indonesia.
"Namun, jika harga energi melonjak 20% secara berkelanjutan, dapat melampaui ambang tersebut pada April-Mei. Dalam skenario ini, inflasi pada akhir tahun diperkirakan mendekati 7,5% di Indonesia," kata Tamara Henderson, Ekonom Bloomberg dalam catatannya.
(dsp/aji)





























