Logo Bloomberg Technoz

Dari sisi domestik, Abida menambahkan, pasar juga mencermati risiko fiskal Indonesia jika harga minyak bertahan tinggi.

Terlebih, dia menggarisbawahi, lembaga pemeringkat global belakangan menurunkan outlook rating utang Indonesia menjadi negatif. “Hal ini membuat investor makin berhati-hati terhadap aset Indonesia,” imbuhnya.

IHSG Sepekan Kemarin Hingga Jumat (6/3/2026) (Bloomberg)

Di sisi lain, ekonom Panin Sekuritas Muhammad Zaidan membeberkan sejumlah data yang belakangan menunjukkan aksi risk off terhadap pasar keuangan domestik Indonesia.

Misalkan, dia mencontohkan, naiknya country risk Indonesia dengan pelebaran spread Surat Berharga Negara (SBN) Valas terhadap UST tenor 10 tahun, lalu nilai tukar rupiah yang tertekan hingga sempat menembus level psikologis Rp17.000 per dolar AS.

“Hingga kenaikan persepsi risiko terhadap pasar Indonesia yang tercermin dari Credit Default Swap (CDS) yang berada di level tertinggi sejak April 2025 lalu,” kata Zaidan saat dihubungi, Senin (9/3/2026).

Menurut dia, sentimen risk off itu relatif terbatas terhadap pasar saham. Kendati demikian, sentimen pengurangan eksposur itu terjadi signifikan di pasar SBN.

Sumber: Bloomberg

Hanya saja, dia menambahkan, tren outflow dana asing berpotensi berlanjut apabila tidak ada perbaikan dari sisi pengelolaan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).

“Misalnya, jika pemerintah tetap mendorong pos belanja negara yang kurang produktif di tengah risiko beban subsidi BBM imbas kenaikan harga minyak ini, maka pelebaran defisit APBN dapat dibaca sebagai sentimen yang buruk oleh pasar,” kata dia.

Saham Migas Justru Loyo

Sejumlah saham migas dengan kapitalisasi pasar besar yang seharusnya menjadi bantalan penurunan IHSG, belakangan justru ikut terkoreksi setelah pelemahan IHSG pada perdagangan sesi I Senin (9/3/2026). Pergerakan ini menjadi anomali, karena saham migas biasanya terkerek ketika harga minyak dunia naik.

Misalkan, saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) susut 0,82% ke level Rp1.810/saham. Sementara itu, saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) anjlok 7,17% ke level Rp2.200/saham.

Di sisi lain, saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) menguat terbatas 3,12% ke level Rp1.820/saham.

“Pelemahan sebagian saham migas di tengah kenaikan harga minyak lebih disebabkan oleh sentimen risk-off pasar secara keseluruhan, bukan karena sentimen minyaknya hilang,” kata pengamat pasar modal Reydi Octa saat dihubungi, Senin (9/3/2026).

Saat IHSG tertekan tajam, Reydi berpendapat, investor cenderung melepas sebagian sektor termasuk energi. Dengan demikian, korelasi dengan harga komoditas sementara menjadi lemah.

“MEDC relatif menguat karena biasanya lebih sensentif terhadap kenaikan harga minyak dan memiliki eksposur produksi yang besar,” kata dia.

IHSG pada perdagangan hari ini, Senin (9/3/2026), dibuka melemah. Hingga pukul 09:05 WIB, indeks kehilangan 323,96 poin (4,27%) ke level 7.261.

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia, volume perdagangan tercatat 6,29 miliar saham dengan nilai transaksi Rp2,97 triliun. Adapun frekuensi yang terjadi sebanyak 283.385 kali.

Mengutip Bloomberg, indeks saham negara berkembang MSCI tercatat sempat turun hingga 4,2% pada perdagangan Senin. Penurunan tersebut memperpanjang koreksi indeks yang kini telah lebih dari 10% dari posisi puncaknya pada akhir Februari lalu.

Tekanan juga terlihat pada bursa saham di Asia. Indeks Kospi di Korea Selatan, yang sebelumnya menjadi salah satu pasar saham dengan kinerja terbaik secara global pada tahun ini, tercatat telah merosot lebih dari 18% dari level tertingginya dalam beberapa waktu terakhir.

Penurunan indeks tersebut terjadi seiring pelemahan sejumlah saham berkapitalisasi besar, seperti Samsung Electronics Co., SK Hynix Inc., dan Hyundai Motor Co., di tengah aksi jual yang meluas ketika investor cenderung menghindari aset berisiko.

Dengan asistensi -- Recha Tiara Dermawan & Artha Adventy

(naw/dhf)

No more pages