Untuk itu, dia menyatakan Indonesia bakal segera mempercepat pembangunan tangki penyimpanan minyak mentah.
“Jadi masalah kita itu sekarang adalah di storage. Makanya kami mau buat sekarang storage. Kalau enggak begini, kita enggak pernah berpikir,” ungkap dia.
Tetap Diuntungkan
Lebih lanjut, Bahlil meyakini Indonesia bakal tetap diuntungkan meskipun mengalihkan impor migas ke AS ketika harga komoditas energi melejit.
Bahlil tidak khawatir volume impor yang didapatkan menciut gegara harga komoditas sedang tinggi, sementara kesepakatan yang telah diteken baru berupa nominal pembelian sebesar US$15 miliar atau sekitar Rp253 triliun.
Bahlil menyatakan pembelian komoditas migas dari AS bakal tetap mengacu pada harga pasar, namun dia yakin PT Pertamina (Persero) dapat melakukan negosiasi secara baik dengan perusahaan AS sehingga impor yang dilakukan tetap menguntungkan.
“Harga itu kan harga pasar. Udah pasti sebelum eh dilakukan transaksi ada negosiasi. Dan saya yakin teman-teman di Pertamina maupun di kami di internal kami punya kemampuan lah untuk melakukan negosiasi dengan mencari harga yang lebih baik ya,” tuturnya
“Pasti menguntungkan ya,” tegasnya.
Dalam kesempatan sebelumnya, Bahlil mengungkapkan bakal segera mempercepat pengalihan impor migas ke AS, seiring dengan terjadinya penutupan Selat Hormuz akibat konflik yang terjadi di Timur Tengah.
Bahlil menyatakan terdapat sekitar 20%—25% minyak mentah yang diimpor oleh Indonesia melewati Selat Hormuz. Dia mencatat total minyak mentah global yang diperdagangkan melewati Selat Hormuz sebesar 20,1 juta barel per hari (bph).
Bahlil menegaskan akan mengalihkan sekitar 25% dari total minyak mentah yang diimpor dari Timur Tengah. Akan tetapi, dia enggan menegaskan kapan rencana tersebut dieksekusi.
Begitu juga dengan gas minyak cair atau liquified petroleum gas (LPG), Bahlil menyatakan impor yang dilakukan tahun ini mencapai 7,8 juta ton dan 70% di antaranya sudah diimpor dari AS.
Dalam kaitan itu, 30% kebutuhan impor LPG Indonesia didatangkan dari Timur Tengah. Dengan kondisi terkini, Bahlil menyatakan akan turut mengalihkan impor LPG dari Timur Tengah ke AS dan beberapa negara yang tak terdampak konflik.
Sekadar catatan, Pemerintah Indonesia dan AS resmi menandatangani poin-poin kesepakatan perjanjian tarif resiprokal, salah satu poinnya memuat kepastian pembelian komoditas energi dari AS senilai total US$15 miliar atau setara Rp253,4 triliun (kurs Rp16.894).
Dalam dokumen yang dirilis Gedung Putih, Indonesia diwajibkan mendukung dan memfasilitasi pembelian LPG senilai US$3,5 miliar atau setara Rp59,13 triliun.
Selain itu, Indonesia juga akan mengimpor minyak mentah atau crude oil dari Negeri Elang Bondol dengan nilai US$4,5 miliar atau setara Rp76,02 triliun
Terakhir, Indonesia juga harus mengimpor BBM atau bensin olahan senilai US$7 miliar atau setara Rp118,26 triliun.
Dalam hal ini, PT Pertamina (Persero) melalui PT Pertamina Patra Niaga sudah meneken nota kesepahaman dan confirmation letter kontrak pembelian LPG dan minyak mentah dengan 2 perusahaan AS.
Pertamina Patra Niaga menyepakati kerangka kerja sama komersial terkait dengan penyediaan light crude untuk kebutuhan kilang Pertamina Patra Niaga, termasuk potensi pasokan dari AS maupun portofolio global Hartree Partners LP.
Pertamina Patra Niaga juga menandatangani confirmation letter dengan Phillips 66 sebagai penegasan pelaksanaan kontrak pasokan LPG untuk periode sepanjang 2026. Total volume kontrak mencapai sekitar 2,2 juta metrik ton.
Sebelum itu, Pertamina melalui PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) telah meneken nota kesepahaman pengadaan feedstock minyak dan kilang masing-masing dengan ExxonMobil Corp, KDT Global Resource LLC, serta Chevron Corp.
(azr/wdh)






























