Kembangan LTJ
Tidak hanya itu, Yuliot menyatakan Kementerian ESDM akan memaksimalkan logam tanah jarang (LTJ) yang terkandung dalam timah.
Saat ini, kata dia, LTJ dalam timah masih dianggap sebagai mineral ikutan dan belum dikembangkan secara maksimal.
“Jadi dalam rangka penataan sektor pertambangan, ya kami mengharapkan itu nanti juga bagian yang bisa logam tanah jarang yang ada di situ, ya kemudian kritikal mineral juga ada di situ, bisa dimanfaatkan untuk pengembangan industri di dalam negeri,” papar Yuliot.
Sebelumnya, Center Of Reform On Economics (Core) menilai Indonesia membutuhkan pengembangan smelter timah yang lebih hilir untuk memastikan kebijakan larangan ekspor ingot timah berjalan secara maksimal.
Dalam kaitan itu, ekonom energi Core Muhammad Ishak Razak berpendapat BPI Danantara melalui holding BUMN pertambangan PT Mineral Industri Indonesia (MIND ID) dapat menjadi pelopor investasi smelter timah di Tanah Air.
Terlebih, kata Ishak, mayoritas komoditas timah banyak dikelola oleh BUMN PT Timah Tbk. (TINS), sehingga peran MIND ID hingga Danantara diharapkan dapat lebih besar dalam investasi smelter tersebut.
Bagaimanapun, kata dia, rencana larangan ekspor ingot memang berpotensi meningkatkan nilai tambah komoditas tersebut. Namun, kebijakan tersebut hanya akan efektif jika industri pengguna atau pembeli akhir atau offtaker udah lebih dahulu dibangun.
“Masalahnya offtaker dari produksi ingot di dalam negeri harus dibangun terlebih dahulu agar mampu menyerap produksi ingot yang saat ini mayoritas diproduksi oleh PT Timah. Ini agar tidak terjadi layoff karyawan yang harus berhenti karena produk tidak terserap, seperti yang pernah terjadi pada kasus tembaga,” kata Ishak ketika dihubungi, Senin (23/2/2026).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) ekspor timah Indonesia masuk dalam kode HS 80011000 unwrought tin, not alloyed atau timah murni. Sementara itu, bijih timah yang masuk dalam kode HS 26090000 tin ores & concentrates, tercatat tidak diekspor oleh Indonesia.
Ekspor bijih timah sempat tercatat dilakukan pada 2023, 2022, dan 2021; tetapi masing-masing hanya sebesar 91 kilogram (kg), 55 kg, dan 40 kg.
BPS melaporkan sepanjang Januari hingga Desember 2025 ekspor timah murni batangan atau ingot tercatat sebanyak 52.416 ton.
Singapura merupakan negara utama ekspor timah Indonesia dengan besaran 12.298 ton. Posisi kedua ditempati China, dengan total ekspor ke negara itu sebesar 9.886 ton.
Posisi ketiga, ditempati oleh Korea Selatan dengan total ekspor sebanyak 8.716 ton. Kemudian, India dengan total ekspor sebanyak 5.035 ton. Sementara di posisi kelima, ditempati jepang dengan total ekspor 4.389 ton.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia melaporkan saat ini pihaknya tengah mengkaji kemungkinan untuk menghentikan ekspor timah.
Rencana itu sebagai bagian dari komitmen pemerintah untuk mendorong hilirisasi mineral logam di dalam negeri.
“Tahun lalu kita melarang ekspor bauksit, dan tahun ke depan kita akan mengkaji beberapa komoditas lain termasuk timah, enggak boleh lagi ekspor barang mentah,” kata Bahlil dalam panel Indonesia Economic Outlook 2026 di Wisma Danantara, Jumat (13/2/2026).
Bahlil meminta pelaku usaha untuk investasi lebih intens pada sisi industri hilir timah nantinya. Dia berharap nilai tambah dari hilirisasi timah itu dapat berlipat ganda.
(azr/wdh)
































