Logo Bloomberg Technoz

Sama halnya dengan telur ayam ras, di mana harga komoditas ini naik di sebagian besar provinsi. Tertinggi dialami oleh Yogyakarta (12,5%), Jawa Tengah (12,43%), Jawa Barat (10,74%), Jawa Timur (10,53%), dan Banten (10%).

Namun, sepertinya ‘bintang’ inflasi kali ini adalah cabai. Kenaikan harganya begitu ‘pedas’.

Untuk cabai merah, misalnya, penurunan harga hanya terjadi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (-0,46%), Kalimantan Utara (-4,06%), dan Lampung (-4,67%). Sementara di Papua Barat, harga cabai tidak bergerak.

Adapun di provinsi sisanya, harga cabai merah bergerak naik. Paling ekstrem terjadi di Sulawesi Utara, mencapai 83,02%. Disusul oleh Sulawesi Barat (52,52%), Gorontalo (47,37%), dan Bali (46,78%).

Kemudian untuk cabai rawit, harga di Sulawesi Selatan dalam sebulan terakhir meroket 99,23%. Sedangkan di Nusa Tenggara Barat, Gorontalo, dan Kalimantan Timur melambung masing-masing 86,48%, 50,83%, dan 48,97%.

Pedagang merapihkan cabai merah besar dan cabai keriting merah di Pasar Kramat Jati, Jakarta, Rabu (10/7/2024). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

“Inflasi bulanan memang biasanya tinggi ketika Ramadan, karena faktor demand-pull. Terutama akibat kenaikan harga pangan utama seperti daging ayam ras, cabai rawit, dan cabai merah,” sebut Faisal Rachman, Ekonom PT Bank Permata Tbk (BNLI).

Inflasi Tahunan

Laju inflasi tahunan (year-on-year/yoy) pada Februari juga diperkirakan terakselerasi. Bahkan bisa sampai menyentuh level yang cukup tinggi.

Berdasarkan konsensus Bloomberg, median proyeksi untuk inflasi Februari adalah 4,3% yoy. Jika terwujud, maka akan menjadi yang tertinggi sejak April 2023 atau hampir tiga tahun terakhir.

Sepertinya efek dari penurunan tarif listrik pada awal tahun lalu masih terasa. Pada Januari-Februari 2025, pemerintah memberikan diskon tarif listrik mencapai 50%. Sesuatu yang tahun ini tidak terjadi.

“Bahkan diskon tarif listrik sampai menyebabkan deflasi secara tahunan pada Februari 2025,” ujar Faisal.

Selain faktor tarif listrik, inflasi Februari juga akan disumbang oleh momentum Ramadan. Tahun lalu, Ramadan baru jatuh pada 28 Februari sehingga dampaknya terhadap inflasi baru terasa pada Maret.

Kemudian untuk inflasi inti (core), konsensus Bloomberg menghasilkan median proyeksi 2,48% yoy pada Februari. Tidak banyak berubah dibandingkan bulan sebelumnya yaitu 2,45% yoy.

Harga emas yang masih tinggi sepertinya membuat inflasi inti tetap bertahan. Nilai tukar rupiah yang relatif stabil bulan ini juga dapat menjangkar inflasi inti.

Karyawan menata emas perhiasan di Toko Mas Bintang Timur, Jakarta, Rabu (7/1/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bunga Acuan

“Ekspektasi terhadap inflasi inti memberi gambaran bahwa sejatinya inflasi masih terkendali di sasaran 1,5-3,5%. Ini memberi Bank Indonesia (BI) ruang untuk bertahan dari kemungkinan menaikkan suku bunga acuan, meski inflasi umum meningkat,” tambah Faisal.

Faisal memperkirakan inflasi umum masih akan berada di atas 3% yoy hingga kuartal I-2026. Selepas itu, lajunya akan melambat dan berada di bawah 3% yoy pada akhir 2026.

“Ini akan menjaga ruang bagi BI untuk menurunkan suku bunga acuan demi mendukung pertumbuhan ekonomi,” ujar Faisal.

Meski begitu, Faisal melihat ruang pemangkasan BI Rate relatif terbatas. Rasanya sulit untuk mengulangi kejadian pada 2025, di mana BI Rate dipangkas hingga 125 basis poin (bps).

“Saat ini, kami melihat ruang pemangkasan BI Rate hanya sekali sebanyak 25 bps. Kemungkinan terjadi pada semester II-2026,” kata Faisal.

(aji)

No more pages