Terbatasnya pelemahan IHSG tak lepas dari kenaikan dan rebound sejumlah saham big caps. Berikut diantaranya berdasarkan data Bloomberg:
- MD Entertainment (FILM) menyumbang 7,19 poin
- Amman Mineral Internasional (AMMN) menyumbang 6,85 poin
- Impack Pratama Industri (IMPC) menyumbang 4,28 poin
- Bakrie and Brothers (BNBR) menyumbang 4,16 poin
- Merdeka Copper Gold (MDKA) menyumbang 2,1 poin
- Vale Indonesia (INCO) menyumbang 1,69 poin
- Pertamina Gas Negara (PGAS) menyumbang 1,64 poin
- Energi Mega Persada (ENRG) menyumbang 1,51 poin
- Merdeka Battery Materials (MBMA) menyumbang 1,31 poin
- Gudang Garam (GGRM) menyumbang 0,79 poin
Namun, rebound IHSG dibatasi koreksi berbagai saham. Di antaranya sebagai berikut:
- Bank Central Asia (BBCA) mengurangi 9,5 poin
- Bank Rakyat Indonesia (BBRI) mengurangi 7,88 poin
- Telkom Indonesia (TLKM) mengurangi 6,33 poin
- Dian Swastatika Sentosa (DSSA) mengurangi 5,23 poin
- Astra International (ASII) mengurangi 5,13 poin
Diketahui, penyebab pelemahan IHSG yang amat dalam tersengat sentimen S&P Global Ratings yang kembali menegaskan kecemasannya terhadap kondisi fiskal Indonesia, utamanya terkait meningkatnya biaya pembayaran bunga utang dan pelebaran defisit.
S&P mencatat, pembayaran bunga utang kemungkinan telah melampaui 15% dari total penerimaan negara — ambang batas risiko yang menjadi perhatian utama. Biarpun Indonesia masih mempertahankan peringkat BBB dengan outlook stabil, tekanan yang berlanjut dapat memicu revisi outlook menjadi negatif.
Hal ini menyusul penurunan outlook oleh Moody’s serta sorotan MSCI terkait tata kelola dan transparansi pasar.
Andrey Wijaya Head of Research RHB Sekuritas Indonesia menyebut, sikap S&P ini relatif sudah terantisipasi, sejalan dengan kekhawatiran Moody’s mengenai disiplin fiskal dan kejelasan kebijakan.
“Hal ini menegaskan pentingnya peningkatan transparansi pengelolaan APBN serta pengendalian defisit yang lebih tegas untuk menjaga kredibilitas,” papar Andrey dalam riset terbarunya.
(fad)




























