Logo Bloomberg Technoz

Media pemerintah Iran melaporkan bahwa sebagian dari pembicaraan dilakukan secara langsung, yang mengindikasikan bahwa para delegasi utama bertemu secara tatap muka ketimbang hanya melalui perantara pejabat Oman. Namun, Baghaei menegaskan bahwa Iran tidak akan membiarkan satu gram pun uranium yang diperkaya tinggi miliknya dipindahkan ke luar negeri.

Di sisi lain, pejabat AS sejauh ini belum berkomentar secara publik, meskipun sebelumnya telah memberi sinyal bahwa Iran harus mengirimkan stok uranium tersebut ke negara lain atau mengencerkannya.

Laporan Wall Street Journal menyebutkan bahwa tim AS mengajukan tuntutan yang sangat berat, termasuk penghancuran tiga situs nuklir utama di Fordow, Natanz, dan Isfahan. AS juga menuntut agar kesepakatan nuklir bersifat permanen tanpa adanya sunset clauses (ketentuan batas waktu berakhirnya perjanjian).

Ketegangan ini telah mendorong AS melakukan pengerahan militer besar-besaran di Timur Tengah, termasuk mengirim dua gugus tugas kapal induk. Trump telah menetapkan tenggat waktu antara 1 hingga 6 Maret bagi Iran untuk mencapai kesepakatan.

Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi, yang memediasi perundingan, mengatakan “ide-ide kreatif dan positif” telah dipertukarkan pada Kamis sebelumnya dan masih ada “harapan untuk mencapai kemajuan lebih lanjut.”

Pasar global memantau situasi ini dengan saksama. Konflik berkepanjangan di Teluk Persia dipastikan akan melonjakkan harga minyak dan memicu inflasi. Harga minyak Brent terpantau naik sekitar 1,8% menjadi di atas US$72 per barel. Sepanjang tahun ini, harga minyak telah melonjak lebih dari 18% akibat kebuntuan hubungan AS-Iran.

Kekhawatiran utama para pedagang energi adalah potensi gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur air vital yang menghubungkan produsen minyak utama ke pasar dunia. Iran sendiri telah mengancam akan membalas dengan keras jika terjadi serangan dari AS.

Arab Saudi dan Iran sama-sama meningkatkan ekspor minyak mentah dalam beberapa pekan terakhir seiring meningkatnya ketegangan.

Peningkatan besar kehadiran militer AS di kawasan—yang disebut terbesar sejak invasi Irak pada 2003—akan bertambah dalam beberapa hari mendatang dengan kedatangan kapal induk kedua yang dapat bergabung dalam potensi serangan atau membantu mempertahankan diri dari serangan balasan Iran. Anggota kabinet keamanan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Avi Dichter, pada Kamis mengonfirmasi laporan media bahwa AS telah menempatkan jet tempur F-22 serta pesawat pengisian bahan bakar di Israel. Israel jarang menjadi tuan rumah bagi pesawat militer negara lain.

Tuntutan Kesepakatan

Di tengah suasana perundingan yang memanas di Jenewa, media pemerintah Iran melaporkan terjadinya kebakaran besar di dekat kilang minyak terbesar negara itu di kota pelabuhan Abadan. Rekaman video menunjukkan kobaran api melahap bagian dari kawasan industri di kompleks tersebut. Hingga saat ini, belum ada laporan mengenai korban jiwa maupun penyebab pasti kebakaran di kilang berkapasitas 500.000 barel per hari tersebut.

Tuntutan AS dalam kesepakatan bervariasi, dengan Trump berulang kali menegaskan tidak akan mengizinkan Teheran memiliki senjata nuklir, meskipun Iran secara terbuka—yang lama diragukan Barat—menyatakan tidak sedang mengupayakannya. Washington juga menyampaikan kekecewaan atas penolakan Iran membahas program rudal balistiknya.

Bagi Teheran, prioritas utama adalah pencabutan sanksi yang telah melumpuhkan ekonomi mereka dan memicu krisis mata uang.

"Kami tidak akan membahas posisi kami kecuali untuk menegaskan hak rakyat Iran atas energi nuklir damai. Kesepakatan apa pun harus mencakup pencabutan sanksi yang tidak adil ini," tegas Baghaei.

Sebagai daya tawar, Wakil Menteri Luar Negeri Hamid Ghanbari sempat mengisyaratkan bahwa Iran mempertimbangkan untuk menawarkan peluang investasi di sektor minyak, gas, dan pertambangan, serta pembelian pesawat kepada AS guna mengamankan kesepakatan, seperti dilaporkan kantor berita Tasnim.

Meskipun putaran negosiasi sebelumnya pada 17 Februari menunjukkan sinyal positif dengan adanya draf teks awal, kedua belah pihak mengakui bahwa tahap selanjutnya akan jauh "lebih sulit dan terperinci."

(bbn)

No more pages