Logo Bloomberg Technoz

Adapun saham–saham konsumen non primer juga jadi pendorong pelemahan IHSG, saham PT Indospring Tbk (INDS) terpeleset 14,9% dan saham PT Vktr Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) juga terjebak di zona merah dengan penurunan 6,53%. Serta saham PT MD Entertainment Tbk (FILM) drop 5,51%.

Saham–saham unggulan LQ45 yang juga bergerak pada teritori negatif hingga menyeret IHSG di zona merah antara lain, saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) terjatuh 7,19%, saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) ambles 6,28%, dan saham PT XLSmart Tbk (EXCL) juta drop 4,76%.

Menyusul amblesnya harga saham PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) yang terjungkal 4,65%, saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) yang terdepresiasi 4,14% dan saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) melemah 3,74%.

Mencermati perdagangan saham regional, Bursa Asia hari ini melaju bervariasi. Indeks KOSPI Korea melesat 3,46%, TOPIX Jepang melejit 0,97%, NIKKEI 225 hijau 0,08%, FTSE Straits Times Singapore drop 0,48%, dan CSI 300 China melemah 0,25%.

Melansir Panin Sekuritas, pada Sesi I. IHSG ditutup melemah di posisi 8.255 tersengat adanya aksi profit taking seiring dengan beberapa emiten yang telah menyentuh harga di level tertinggi sebelum pengumuman MSCI Januari 2026 lalu.

“IHSG akan tetap melanjutkan tren volatilitas yang relatif tinggi menjelang rebalancing oleh MSCI yang dimana seluruh perubahan indeks akan berlaku efektif setelah penutupan perdagangan besok Jumat (27 Februari 2026),” papar Panin dalam risetnya siang hari ini, Kamis.

Selain itu, investor asing pun turut mencermati risiko nilai tukar rupiah yang bergerak cukup volatile, juga dengan mempertimbangkan intervensi oleh Bank Indonesia (BI) dan juga sentimen pasar terhadap kondisi fiskal Indonesia yang tengah mencatatkan pelebaran defisit yang cukup besar pada awal tahun imbas strategi percepatan belanja oleh pemerintah.

Adapun, turut menarik perhatian ialah pergerakan harga-harga emiten pada sektor bahan baku yang berbanding terbaik dengan pergerakan harga komoditas yang cenderung menguat di pasar global.

“Emiten yang mendorong pelemahan pada sektor ini utamanya MDKA (-6,28%), EMAS (-3,30%), dan ANTM (-3,36%),” sebut Panin.

(fad)

No more pages