Dengan amunisi likuiditas yang melimpah serta suku bunga yang semakin baik, OJK optimistis tingkat penyaluran kredit akan melaju kencang tahun ini. OJK mematok target pertumbuhan kredit perbankan di kisaran 10% hingga 12%. Menurutnya, data awal tahun ini menunjukkan tren yang menggembirakan.
"Memang angkanya belum kami publikasikan, tetapi sudah ada kenaikan yang cukup baik pada bulan lalu. Ada sedikit lonjakan, dan ini menjadi sinyal positif," tuturnya.
OJK berharap kombinasi antara likuiditas yang kuat dan meningkatnya kepercayaan konsumen akan menjadi motor penggerak sektor riil, sehingga pelaku UMKM memiliki keberanian untuk kembali melakukan ekspansi usaha.
“Harapannya tentu saja kita akan mencoba untuk mendongkrak UMKM tahun ini. Mudah-mudahan dengan demikian ini akan bisa menggeliatkan UMKM,” ucap Dian.
Buka Peluang Injeksi
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membuka peluang untuk menambah penempatan dana pemerintah di perbankan, apabila likuiditas tersendat.
Menurutnya, Kementerian Keuangan akan terus memantau dinamika pasar dan menyelaraskan langkah dengan arah kebijakan moneter Bank Indonesia (BI). Dia mengaku fokus utamanya saat ini adalah mengawal kecukupan pasokan uang di industri perbankan.
"Kita lihat keadaan [injeksi tambahan]. Kita lihat gimana strateginya Bank Sentral, kita akan adjust strategi kita sesuai dengan strategi Bank Sentral," kata Purbaya ditemui di kantornya, Selasa (24/2/2026).
Bendahara Negara menjelaskan langkah perpanjangan penempatan dana pemerintah bisa mengamankan pasokan likuiditas sekaligus mendorong perbankan agar tetap agresif menyalurkan kredit ke sektor riil.
"Menurut saya enggak akan diambil, akan tetap dibiarkan di sistem perbankan. Jadi, bank-bank enggak usah takut itu diambil," tuturnya.
Purbaya ingin meyakinkan pihak perbankan agar tidak khawatir akan terjadinya pengetatan likuiditas secara tiba-tiba. Pemerintah, lanjutnya, berkomitmen untuk terus mendukung likuiditas di pasar agar bank lebih bersemangat mencari debitur dengan tetap memegang prinsip kehati-hatian.
Sekadar catatan, sejak ditunjuk menjadi Menteri Keuangan, Purbaya terpantau agresif memindahkan kas negara ke sejumlah bank Himbara. Pemerintah pertama kali menempatkan kas negara sebesar Rp200 triliun pada September 2025 yakni ke Mandiri, BNI, dan BRI masing-masing sebesar Rp55 triliun; BTN sebesar Rp25 triliun; dan BSI Rp10 triliun.
Beberapa bulan setelahnya dia menambah Rp76 triliun ke Mandiri, BNI, BRI dan Bank Jakarta. Namun, dana tersebut itu ditarik kembali olehnya untuk membiayai belanja pemerintah pada akhir tahun.
(lav)




























