Logo Bloomberg Technoz

"Pasar mungkin bisa mentoleransi berita utama, namun mereka tidak akan mengabaikan hilangnya pasokan," ujar Haris Khurshid, Chief Investment Officer di Karobaar Capital LP. "Jika ekspor Iran terpukul atau terjadi gangguan nyata di Selat Hormuz—yang sangat mungkin terjadi jika situasi memburuk—saat itulah harga minyak mentah akan meroket dengan cepat."

Selat Hormuz merupakan jalur sempit yang memisahkan Iran dengan Semenanjung Arab. Setiap harinya, kapal-kapal tanker yang membawa minyak mentah dan gas alam cair (LNG) melintasi jalur tersebut untuk dikirim ke seluruh dunia. Teheran hanya perlu mengganggu aliran lalu lintas tersebut, tanpa harus memblokade total, untuk memberikan dampak besar pada pasar minyak global.

Negara-negara produsen besar seperti Arab Saudi, Irak, dan Kuwait mengirimkan minyak mereka melalui Hormuz, dengan mayoritas kargo menuju pasar Asia. Iran memproduksi lebih dari 3 juta barel minyak mentah per hari, atau sekitar 3% dari total produksi global, dan sebagian besar diekspor ke China.

Meskipun terdapat kekhawatiran atas meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, prompt spread untuk Brent—perbedaan harga antara kontrak dua bulan pertama—justru menyempit dalam struktur backwardation yang menunjukkan sentimen bullish. Metrik yang dipantau ketat ini berada di angka 42 sen per barel pada hari Senin, turun dibandingkan lebih dari US$1 pada akhir Januari.

"Pantau terus time spreads, inventaris diesel, serta disiplin OPEC," tambah Khurshid. "Jika pasar produk mengetat atau kurva bergerak menuju backwardation yang lebih kuat, itu pertanda bahwa gangguan pasokan benar-benar nyata."

Harga:

  • Brent untuk pengiriman April turun 0,9% menjadi US$71,11 per barel pada pukul 08.36 waktu Singapura.
  • WTI untuk pengiriman April melemah 0,9% menjadi US$65,85 per barel.

(bbn)

No more pages