Pilihan waktu kedua adalah menjelang berbuka puasa. Keuntungannya, tubuh bisa segera mendapatkan cairan dan nutrisi setelah latihan selesai.
Meski demikian, kondisi energi—terutama gula darah—biasanya sudah menurun dan tubuh cenderung mulai dehidrasi. Karena itu latihan sebaiknya berintensitas rendah. “Latihan ringan menjelang buka lebih aman, misalnya kardio ringan sekitar 30–45 menit sebelum waktu berbuka,” ujarnya.
Sementara itu, olahraga setelah berbuka juga dapat menjadi alternatif karena kebutuhan makan dan minum sudah terpenuhi. Namun waktu sering terbatas karena adanya salat Isya dan Tarawih. Jika dilakukan terlalu malam, olahraga justru bisa mengganggu waktu istirahat.
Ia menyarankan pengaturan konsumsi takjil secukupnya agar olahraga bisa dilakukan sebelum ibadah malam tanpa menunggu terlalu lama. “Interval training singkat sekitar 20–30 menit bisa jadi pilihan sebelum salat Isya,” tambahnya.
Selain soal waktu, pemilihan lokasi olahraga juga penting. Aktivitas indoor cenderung lebih aman saat puasa karena suhu dan kelembapan bisa dikontrol sehingga mengurangi risiko dehidrasi. Jika memilih olahraga outdoor, sebaiknya hindari paparan panas berlebih serta pastikan kondisi tubuh benar-benar fit.
Terakhir, ia mengingatkan pentingnya menjaga kualitas tidur selama Ramadan. Kurang tidur bisa menurunkan performa olahraga sekaligus memengaruhi kesehatan secara keseluruhan.
“Jangan sampai olahraga mengorbankan waktu tidur. Istirahat cukup tetap kunci agar tubuh kuat menjalani puasa sekaligus aktivitas fisik,” tuturnya.
(dec)



























