Menurut Saleh, rencana impor tersebut tidak sejalan dengan visi hilirisasi dan industrialisasi yang selama ini menjadi prioritas pemerintahan Prabowo.
Dalam 17 program prioritas dan delapan agenda prioritas, Presiden menekankan pentingnya peningkatan nilai tambah dalam negeri, pembukaan lapangan kerja, serta penciptaan keadilan ekonomi melalui penguatan industri nasional.
Saleh menilai kebijakan hilirisasi dan industrialisasi mampu mendorong transfer teknologi serta pengembangan sumber daya manusia lokal. Karena itu, industri yang telah dibangun melalui investasi, termasuk sektor otomotif, perlu dijaga dengan regulasi yang berpihak pada produksi dalam negeri.
“Mengimpor mobil CBU sama saja dengan membunuh industri otomotif yang sedang tumbuh,” kata dia.
Dalam pelaksanaannya, kata dia, PT Agrinas Pangan Nusantara berencana melakukan impor 105.000 unit kendaraan dari India yang terdiri atas 35.000 unit mobil pikap 4x4 produksi Mahindra & Mahindra Ltd. 35.000 unit pikap 4x4 dari Tata Motors, serta 35.000 unit truk roda enam dari produsen yang sama.
Pengiriman kendaraan dilakukan secara bertahap sepanjang 2026 dan hingga kini sebanyak 200 unit pikap Mahindra dilaporkan telah tiba di Indonesia.
Sebelumnya diberitakan, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan, penguatan produksi kendaraan pikap nasional, khususnya tipe 4x2, memiliki dampak ekonomi signifikan.
Ia mencontohkan, apabila pengadaan kendaraan pikap sebanyak 70.000 unit dipenuhi dari produksi lokal, maka dampak ekonomi yang tercipta diperkirakan mencapai sekitar Rp27 triliun melalui keterkaitan industri hulu.
“Apabila kebutuhan kendaraan pikap dipenuhi oleh industri dalam negeri, maka nilai tambah ekonomi dan penyerapan tenaga kerja akan dinikmati Indonesia. Sebaliknya, jika dipenuhi melalui impor, manfaat tersebut justru dinikmati industri luar negeri,” ujar Agus dalam siaran resminya, Kamis (19/2/2026).
(dec/naw)


























