Logo Bloomberg Technoz

Lembaga pemeringkat indeks global Morgan Stanley Capital International MSCI turut mencatat kekhawatiran atas keterbukaan struktur kepemilikan dan praktik perdagangan tertentu. Catatan ini berdampak pada persepsi risiko investor asing dan berujung pada tekanan modal keluar serta penurunan nilai pasar.

Kondisi tersebut memperkuat urgensi pengawasan pasar oleh BEI dan Otoritas Jasa Keuangan OJK. Regulator menyatakan komitmen untuk memantau pola transaksi yang tidak wajar dan memperketat pengawasan terhadap market conduct.

Apa Itu Saham Gorengan

Secara umum, saham gorengan adalah saham yang harganya bergerak tidak wajar tanpa dukungan fundamental yang memadai. Lonjakan harga sering kali diiringi peningkatan volume perdagangan yang drastis dalam waktu singkat.

BEI menegaskan bahwa istilah ini tidak mengacu pada sektor atau kelompok tertentu. Seluruh saham berpotensi mengalami pola serupa jika terjadi praktik manipulasi harga oleh pihak yang terkoordinasi.

Ciri Ciri Saham Gorengan

Ada sejumlah pola yang kerap muncul pada saham yang diduga mengalami praktik gorengan.

1. Lonjakan Harga dan Volume Tanpa Fundamental

Salah satu indikator utama adalah kenaikan harga dan volume yang tidak didukung kinerja perusahaan. Chief Investment Officer Danantara Pandu Sjahrir menilai banyak saham diperdagangkan pada valuasi yang tidak rasional.

"Banyakan dari sisi investor atau kalau MSCI sebutnya uninvestability. Kenapa? Karena mungkin secara valuasi sangat tinggi," ujar Pandu.

Rasio seperti enterprise value to sales EV Sales yang terlalu tinggi dibandingkan kinerja riil menjadi sinyal peringatan bagi investor.

2. Konsentrasi Kepemilikan dan Free Float Rendah

Saham dengan porsi free float kecil lebih rentan dikendalikan oleh pihak tertentu. Konsentrasi kepemilikan pada kelompok terafiliasi dapat memudahkan pengaturan harga melalui transaksi terkoordinasi.

Isu ini juga menjadi perhatian lembaga indeks global yang menilai transparansi struktur kepemilikan sebagai faktor penting dalam kelayakan investasi.

3. Pola Perdagangan Terkoordinasi

Pergerakan jual beli yang berulang pada waktu tertentu, kemunculan akun atau klaster pembeli yang sama, serta perubahan likuiditas secara mendadak dapat mengindikasikan intervensi terstruktur.

BEI dan OJK menyatakan akan mengawasi pola seperti ini untuk menjaga integritas pasar.

4. Promosi Agresif Tanpa Informasi Fundamental

Promosi saham secara masif di media sosial tanpa dukungan informasi resmi juga menjadi tanda bahaya. OJK menyoroti potensi peran influencer yang memicu FOMO fear of missing out di kalangan investor ritel.

Pengawasan terhadap konten pasar akan menjadi bagian dari upaya pencegahan praktik manipulatif.

Dampak bagi Investor Pemula

Saham gorengan dapat memberikan keuntungan besar dalam waktu singkat. Namun risiko kerugian juga sangat tinggi ketika tren berbalik arah.

Investor ritel yang minim pengalaman sering kali membeli saat harga sudah melambung. Ketika pelaku utama mengambil keuntungan atau regulator melakukan penindakan, harga dapat turun tajam dalam waktu singkat.

Fenomena ini menimbulkan kerugian signifikan dan berpotensi mengikis kepercayaan terhadap pasar modal.

Cara Menghindari Saham Gorengan

Investasi Jelang Libur Lebaran (Bloomberg Technoz/Arie Pratama)

Investor pemula disarankan memiliki checklist sebelum membeli saham yang volatil.

1. Periksa Fundamental Perusahaan

Tinjau laporan laba rugi, arus kas, dan neraca selama beberapa periode. Konsistensi pendapatan dan kemampuan menghasilkan arus kas menjadi indikator kesehatan bisnis.

Jangan membeli hanya karena harga sedang naik cepat.

2. Amati Free Float dan Struktur Kepemilikan

Periksa persentase saham publik dan konsentrasi kepemilikan. Free float sangat rendah meningkatkan risiko manipulasi harga.

3. Waspadai Lonjakan Harga dan Volume

Bandingkan volume rata rata harian dengan volume saat lonjakan terjadi. Kenaikan harga tanpa berita fundamental patut dicurigai.

Penggunaan screener saham dapat membantu mendeteksi pergerakan abnormal.

4. Pastikan Ada Keterbukaan Informasi

Kenaikan harga seharusnya didukung pengumuman resmi seperti laporan laba, kontrak signifikan, atau aksi korporasi. Informasi dapat diverifikasi melalui keterbukaan informasi BEI.

Hindari keputusan investasi berdasarkan rumor atau unggahan media sosial.

5. Gunakan Rasio Valuasi

Bandingkan rasio EV Sales, PER, dan PBV dengan perusahaan sejenis. Valuasi yang terlalu tinggi tanpa alasan fundamental perlu diwaspadai.

6. Terapkan Manajemen Risiko

Batasi porsi investasi pada saham berisiko tinggi. Gunakan strategi stop loss secara disiplin untuk mengendalikan potensi kerugian.

7. Pilih Sekuritas Teregulasi

Pastikan menggunakan perusahaan sekuritas berizin dan memiliki reputasi baik. Transparansi broker penting dalam menjaga keamanan transaksi.

8. Tingkatkan Literasi dan Hindari FOMO

Regulator dan asosiasi pasar modal terus mendorong edukasi investor. Keputusan investasi sebaiknya berbasis analisis, bukan dorongan emosional atau cerita keuntungan instan.

Isu saham gorengan kembali mengemuka di tengah tekanan IHSG dan sorotan internasional terhadap transparansi pasar. Regulator menegaskan komitmen pengawasan terhadap praktik manipulasi harga tanpa memandang kelompok saham tertentu.

Bagi investor, terutama pemula, kewaspadaan dan disiplin analisis menjadi kunci utama. Pasar modal menawarkan peluang, namun tanpa pemahaman yang memadai, risiko dapat datang lebih cepat dari yang diperkirakan.

(seo)

No more pages