Dia menyebut terdapat kemungkinan risiko dari dampak perlambatan ekonomi Amerika Serikat dan penurunan harga aset yang dapat mendorong penurunan suku bunga pada paruh kedua tahun ini.
Dihubungi terpisah, Global Market Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto juga sepakat BI masih mempertahankan suku bunga pada RDG Februari 2025 kali ini.
BI dinilai masih akan fokus menjaga stabilitas makroekonomi domestik, terutama dari sisi moneter.
“Kita lihat kondisinya sekarang rupiah perlu langkah untuk stabilisasi nilai tukar, untuk menjaga cadangan devisa juga supaya tidak terkuras, selalu juga kondisi pasar keuangan kita juga perlu tetap dijaga daya tariknya,” tutur dia.
Menurutnya, apabila langkah-langkah tersebut telah dilakukan oleh BI, maka kondisi itu akan mendukung ruang bagi BI untuk ikut menopang pertumbuhan ekonomi nasional yang kondusif.
Di sisi lain, BI juga memiliki instrumen makroprudensial yang dapat mendorong penyaluran kredit ke sektor prioritas pembangunan dengan biaya lebih murah melalui penurunan maupun insentif giro wajib minimum bagi bank yang menyalurkan kredit ke sektor prioritas.
“Dan juga BI punya instrumen juga untuk mendukung kelancaran perekonomian melalui sistem pembayaran yang sangat baik,” ucap dia.
Sekadar catatan, rupiah mencatatkan penyusutan dalam perdagangan spot hari ini, Rabu (18/2/2026), sebanyak 0,07% menjadi Rp16.850/US$ kala pembukaan perdagangan. Tak berselang lama, rupiah tambah melemah 0,12% menjadi Rp16.860/US$.
Di pasar offshore atau Non-Deliverable Forwards (NDF), rupiah yang tadi pagi sempat menguat kini berbalik melemah 0,01% dari Rp16.864/US$ menjadi Rp16.866/US$.
Hal ini terjadi lantaran indeks dolar AS melanjutkan tren penguatannya setelah rilis data-data ekonomi domestik yang cukup mendukung dengan tingkat inflasi relatif terjaga di level 2,4% dari sebelumnya 2,7%. Dengan sinyal prospek ekonomi membaik, The Fed diperkirakan masih akan tetap mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5-3,75%.
Dari pasar Asia, penguatan dolar AS ini kembali menyeret mata uang Benua Kuning ke zona merah. Baht Thailand terdepresiasi paling dalam sebanyak 0,22%.
Disusul yen Jepang yang tadi pagi sempat menguat kini melemah 0,09%. Kemudian peso Filipina juga tergerus 0,07%, yuan offshore China susut 0,02%, serta dolar Singapura terdepresiasi 0,02%.
(lav)






























