Logo Bloomberg Technoz

Kebutuhan Domestik

Wahyu menyebut kebutuhan bijih tahun ini berada di kisaran 330—350 juta ton, sehingga terdapat celah kekurangan bijih sekitar 60—80 juta ton gegara RKAB nikel dipangkas menjadi 260—270 juta ton.

“Membantu rebound harga nikel global yang sempat tertekan akibat oversupply. Indonesia sebagai pemegang pangsa pasar terbesar akhirnya menunjukkan taringnya dalam kendali suplai,” ungkap Wahyu.

Di sisi lain, defisit bijih yang terjadi berpotensi membuat perusahaan smelter melakukan impor bijih, utamanya dari Filipina. Hal tersebut dilakukan untuk menutupi kekurangan bijih yang didapatkan dari pasar domestik agar fasilitas produksi tetap beroperasi

Adapun, Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) merasa prihatin dengan keputusan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang memangkas rencana produksi nikel periode 2026 menjadi 270 juta ton dari tahun lalu sebanyak 379 juta ton. 

Kondisi ini berdampak pada risiko kelangkaan bahan baku bijih nikel yang digunakan bagi kebutuhan hilirisasi nikel di Tanah Air.

Ketua Umum FINI Arif Perdana Kusumah mengatakan sejatinya kebutuhan bijih nikel bagi seluruh smelter—baik pirometalurgi berbasis rotary kiln electric furnace (RKEF), maupun segmen hidrometalurgi berbasis high pressure acid leach (HPAL) — mencapai sekitar 350—360 juta ton.

Walhasil,  saat RKAB nikel dipangkas menjadi hanya 260—270 juta ton, terdapat kekurangan pasokan bahan baku bijih nikel dalam negeri paling sedikit sekitar 90—100 juta ton.

Situasi tersebut, kata dia, akan sangat menyulitkan dan memberatkan para pelaku usaha industri smelter di Indonesia.

Sekadar informasi, Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM mengumumkan telah menerbitkan RKAB nikel periode 2026 pada Selasa (10/2/2026).

Menurut Dirjen Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Tri Winarno, kuota produksi bijih nikel yang disetujui berada di rentang 260 juta ton sampai 270 juta ton.

Kuota itu merosot lebar jika dibandingkan dengan target produksi pada RKAB tahun sebelumnya sebesar 379 juta ton.

“[RKAB] nikel sudah kita umumkan hari ini, [target produksinya] 260—270 juta ton, in between range-nya itu,” kata Tri saat ditemui di Gedung Ditjen Minerba, Selasa (10/2/2026).

Sekadar catatan, nikel dilego di harga US$16.861/ton pada Rabu (18/2/2026) di LME. Harga nikel mengalami penurunan 1,48% dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya.

Harga nikel sempat mencapai rekor di atas US$100.000/ton pada Maret 2022 akibat short squeeze pasar, tetapi sejak itu harga menurun tajam.

Sepanjang 2024, harga menyentuh rekor terendah dalam 4 tahun terakhir setelah sebelumnya diproyeksikan mencapai US$18.000/ton, turun dari perkiraan sebelumnya di level US$20.000/ton, menurut lengan riset dari Fitch Solutions Company, BMI.

Gejala ambruknya harga nikel sudah terdeteksi sejak 2023. Rerata harga saat itu berada di angka US$21.688/ton atau terjun bebas 15,3% dari tahun sebelumnya US$25.618/ton. Kemerosotan itu dipicu oleh pasar yang terlalu jenuh ditambah dengan lesunya permintaan.

-- Dengan asistensi Mis Fransiska Dewi

(azr/wdh)

No more pages